Menu
Gus Ipul Apresiasi Program Kepemilikan Rumah Bagi Driver Gojek

Gus Ipul Apresiasi Program Kepemili…

Surabaya-KoPi| Wakil Gu...

Akbar Tanjung: Munaslub cara utama selamatkan Golkar

Akbar Tanjung: Munaslub cara utama …

Sleman-KoPi| Wakil Dewa...

Siswa di Bantul diduga terjangkit Difetri

Siswa di Bantul diduga terjangkit D…

Sleman-KoPi| Satu siswa...

Peneliti mendeteksi tanah merekah di Yogyakarta

Peneliti mendeteksi tanah merekah d…

Jogja-KoPi|Dua akademisi ...

Pakde Karwo Minta Kepala OPD Gunakan Tradisi Intelektual Pada Budaya Kerja

Pakde Karwo Minta Kepala OPD Gunaka…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Wujudkan Kecintaan Nabi Muhammad, Gus Ipul Baca “Duhai Kanjeng Nabi”

Wujudkan Kecintaan Nabi Muhammad, G…

Surabaya-KoPi| Mewujudk...

Pemkot Yogyakarta tidak akan terima masukan masyarakat sebagai pribadi

Pemkot Yogyakarta tidak akan terima…

Jogja-KoPi|Wakil Wali Kot...

Pemuda peduli Pemilu

Pemuda peduli Pemilu

Jogja-KoPi| Partsipasi ...

Laksda Arie Soedewo: Laut Indonesia belum terkelola baik

Laksda Arie Soedewo: Laut Indonesia…

Sleman-KoPi|Kepala Bada...

UMKM Foords Plaza Geldboom

UMKM Foords Plaza Geldboom

Surabaya -KoPi| Artis p...

Prev Next

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia. Kali ini terorisme menimpa ibu kota negara. Tepatnya, di kampung Melayu, Jakarta Timur. Sejumlah orang meninggal dunia. Termasuk pihak aparat keamanan yang tengah berjaga. Sementara itu, dua pelakunya tewas secara mengenaskan. Bahkan, kepalanya ada yang terpisah dari anggota badannya.

Sebagian besar dari masyarakat kita mengutuk keras aksi brutal terorisme tersebut. Mulai dari rakyat biasa hingga kalangan wakil rakyatnya. Sejak saat itu, wacana penuntasan RUU terorisme menjadi perbincangan hangat di media massa. Terlebih, rezim pemerintah dengan semangat berapi-api memproklamirkan perang melawan terorisme. Penyelesaian RUU terorisme adalah bentuk dari upaya mendesaknya menggebuk aksi terorisme.

Dengan posisi tertinggi ketiga tingkat Asean setelah Filipina dan Thailand, berdasarkan data indeks terorisme global tahun 2016, menjadi pantas kiranya perang melawan terorisme menjadi agenda ambisius bangsa Indonesia.

Tetapi, sejak dahulu kala, wacana mengenai terorisme layaknya lapis legit. Antara satu dan bagiannya lainnya saling tumpang tindih. Pada mulanya, ia terasa lezat di lidah penikmatnya. Lama-lama, lapis legit yang dikonsumsi berlebihan akan memproduksi kuman penyakit. Apalagi, lapis legit belakangan ini sudah menjadi produksi massal dalam kemasan yang disertai bahan pengawet dan kadar gula tingkat tinggi.

Meskipun tampilan lapis legit menggoda selera makan, tentu saja terdapat peringatan masa tenggang yang harus diperhatikan. Kecuali konsumennya tengah memperagakan ilmu kuda lumping yang bisa memakan apa saja, termasuk pecahan beling kaca.


ESENSI TERORISME

Lapisan pertama dari terorisme adalah esensi. Perlu dicermati secara hati-hati, sebagaimana dituliskan oleh Lutz and Lutz (2004) dalam “Global Terrorism”, bahwa kebijakan pemerintah tentang terorisme bisa mencapai keberhasilan sekaligus berpotensi kegagalan membasmi gerakan terorisme. Karena, kampanye perang melawan terorisme internasional pasca tragedi 9/11 justru memberikan legitimasi atas upaya invasi besar-besaran negara adikuasa ke kawasan timur tengah.

Dengan alasan bahwa sumber daya alam dan manusia di sana dianggap mengandung benih-benih berbahaya bagi keamanan dunia. Meskipun, senjata nuklir dan biologis yang mengancam jiwa manusia juga banyak diproduksi di Amerika. Tragedi Hiroshima dan Nagasaki, hingga Nikaragua dan Guatamala adalah salah satu contoh sejarah kelam proyek terorisme dunia. Itulah sebabnya, perang melawan terorisme yang digagas sejak rezim Reagan dan direproduksi ketika rezim Bush, tak lebih dari suatu alat politik.

Lutz and Lutz (2011) di dalam “Terrorism: The Basics” menjelaskan secara jernih esensi dasar terorisme. Gagasan umum mengenai esensi terorisme adalah perjuangan kemerdekaan seseorang merupakan teroris bagi orang lain (“One person’s freedom fighter is another person’s terrorist”). Hal ini tentu perlu diurai lebih jauh lagi.

Setidaknya, ada enam komponen utama memahami terorisme. Pertama, terorisme memiliki agenda dan alasan politik. Pembajakan pesawat untuk meminta tebusan kepada pihak perusahaan bukanlah termasuk terorisme, melainkan kriminal dengan kekerasan. Tetapi, pembajakan pesawat dengan tujuan melucuti prinsip dasar otoritatif dan menggantikan sistem pemerintahan demokratis dapat tergolong terorisme.     

Kedua, pelaku terorisme (teroris) selalu menggunakan kekerasan dan ancaman kekerasan. Dalam sistem demokrasi, aksi demontrasi, petisi, dan kritik sosial terhadap rezim pemerintahan yang menyimpang dari amanah rakyatnya, bukanlah tergolong terorisme. Setajam apapun kritik sosial itu disampaikan. Jika kekerasan maupun ancaman kekerasan digunakan dengan tujuan menciptakan rasa takut terhadap kelompok sasaran, maka tindakan itu tergolong terorisme. Hoax bisa termasuk ketegori ini. Maka, gerakan kampanye “Kami tidak takut teroris”, menggugurkan esensi terorisme pada konteks ini.

Ketiga, kekerasan memenuhi syarat terorisme jika memiliki target korban yang berdampak terhadap kehidupan orang banyak sebagai usaha mencapai tujuan politik organisasi pelakunya. Bom yang meledak dan menghancurkan bangunan, membunuh ataupun membuat orang lain terluka, sebagai pesan peringatan kepada aparatus pemerintahan bagian dari terorisme. Ini juga bisa berlaku terbalik dari atas ke bawah.

Keempat, kekerasan politik dapat memenuhi syarat terorisme jika teridentifikasi organisasi pendukungnya. Semisal, para pelaku bom bunuh diri di tempat keramaian, baik jelas ataupun tidak jelas targetnya, dibaliknya tersembunyi keterkaitan organisasi politik tertentu. Sehingga, tak penting alat apa yang digunakan untuk melakukan aksi bom bunuh dirinya. Karena, ada kelompok pemberi sponsor baik modal ekonomi, sosial, dan kultural, dari setiap aksi individu yang dilakukan.

Kelima, terorisme merupakan situasi dimana negara membiarkan, mendiamkan, atau pura-pura bungkam atas terjadinya kekerasan politik yang melibatkan peran paramiliter atau kelompok kekerasan di masyarakat. Bahkan, saat negara menggunakan peran para kelompok kekerasan atau paramiliter dalam rangka memaksa rakyatnya mengikuti agenda politik rezim pemerintahan atau elit politiknya.

Keenam, terorisme merupakan pilihan teknik kelompok sosial tertentu yang lemah dan tak berdaya secara politik. Mereka telah menggunakan banyak cara untuk menyampaikan aspirasi dan kritikan terhadap rezim politik atau pemerintahan secara damai. Sehingga, terorisme sebagai pilihan teknik mereka untuk merubah arah kebijakan. Hal ini bisa dilakukan pula saat kelompok yang kalah dalam sistem pemilihan demokratis dengan cara menimbulkan situasi ketakutan dan ancaman masa depan.  


KULTUR DAN SPIRIT TERORISME

Tetapi, lapisan kedua dan ketiga dari wacana terorisme adalah kultur dan spirit terorisme itu sendiri. Kultur terorisme disebarluaskan melalui formasi pengetahuan dari kalangan intelektual dan media massa yang disponsori oleh rezim kekuasaan yang sangat berkepentingan terhadap kebijakan terorisme.

Tujuannya, menciptakan target lunak (“soft target”). Misalnya, pusat medis, pendidikan, keagamaan, dan pelayanan publik. Di sanalah, ruang sirkulasi pengetahuan yang mengacaukan dan menimbulkan ancaman kekerasan sekaligus perpecahan.

Sehingga, potensi terorisme menjadi aktual dan sejumlah pihak bisa mengambil keuntungan dari situasi itu dengan cara menjadikan target lunak sebagai organisasi kontra terorisme (Chomsky, 1988. “The Culture Terrorism”).

Sedangkan, spirit terorisme berakar dari upaya memecahbelah untuk membenahi cara kerja globalisasi yang tengah dilanda krisis. Terorisme bukanlah fakta dari benturan peradaban. Bagi Jean Baudrillard (2002) dalam “The Spirit of Terrorism” terorisme adalah permainan rezim hegemonik dan dominasi global yang diimpor ke belahan dunia lainnya.

Itu sebabnya, terorisme kini melebihi nilai kebaikan dan kejahatan (beyond good and evil). Terorisme adalah perang dunia keempat dari antagonisme hantu sejarah Amerika, yang bernama hantu sejarah Islam. Perang dunia pertama merupakan perang kolonialisme eropa. Perang dunia kedua adalah perang melawan rezim Nazi-Hitler. Perang dunia ketiga ditandai terjadinya “perang dingin”, antara komunisme dan kapitalisme.

Perang dunia keempat ini terorisme menjadi spirit dominasi global negara adidaya dan para aliansinya. Perang ini telah melampui realitasnya. Negara yang berpotensi mengancam kepentingan global negara barat ini akan dikuasai dan dikendalikannya perlahan. Baik sistem ekonomi, teknologi, jaringan media, sistem keamanan, hingga kebijakan politiknya. Tetapi, pengendalian global semacam itu menimbulkan serangan balik untuk meruntuhkan simbol kekuatan globalisasi.

Dengan kata lain, terorisme sebenarnya perang teroris melawan teroris yang lain. Mereka yang terlibat perang ini sulit memperlihatkan wujud aslinya. Globalisasi telah mengaburkan batas-batas satu negara dengan negara lainnya. Mereka beradu wacana sebagai bentuk perang psikologi massa sambil menunggu celah kerusakan sistem kekuasaan di negara bidikan. Kalau begitu, relakah bangsa ini menjadi lapis legit sebagai santapan hantu-hantu globalisasi yang kelaparan ?  

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...