Menu
Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald Trump sebagai orang gila

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald T…

Sleman-KoPi| Buya Ahmad...

Taiwan Higher Education Fair UMY tawarkan beasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Taiwan

Taiwan Higher Education Fair UMY ta…

Bantul-KoPi Universitas...

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota ciptakan Skema Pembiayaan Terintegrasi

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota cipta…

Surabaya-KoPi| Sekdapro...

Mendikbub belum berlakukan UN model esai

Mendikbub belum berlakukan UN model…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Muhammadiyah menyatakan sikap terkait bencana lingkungan

Muhammadiyah menyatakan sikap terka…

Bantul-KoPi| Majelis Li...

Mendikbud meresmikan Museum dan Galeri Tino Sidin

Mendikbud meresmikan Museum dan Gal…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Para orangtua harus pahami kebutuhan anak difabel

Para orangtua harus pahami kebutuha…

Bantul-KoPi|Pola asuh ana...

Konektivitas Virtual Global: Peringkat Indonesia dan Jokowi Meningkat

Konektivitas Virtual Global: Pering…

Yogyakarta-KoPi | Kemud...

Gus Ipul Apresiasi Program Kepemilikan Rumah Bagi Driver Gojek

Gus Ipul Apresiasi Program Kepemili…

Surabaya-KoPi| Wakil Gu...

Akbar Tanjung: Munaslub cara utama selamatkan Golkar

Akbar Tanjung: Munaslub cara utama …

Sleman-KoPi| Wakil Dewa...

Prev Next

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya termasuk orang yang tidak berbahagia. Meskipun terdapat acara Surabaya Shopping Festival (SSF) yang diadakan pihak pemerintah setempat, saya malahan mempertanyakan moralitas kegunaannya. Karena, SSF yang bergelimang diskon 80% di setiap pusat perbelanjaan modern (mall), nyatanya di sana sedang disuguhkan situasi paradok.

Di satu sisi, SSF mendongkrak daya beli masyarakat. Tetapi, di sisi lainnya, membuat masyarakat menjadi agen-agen konsumerisme. Mereka seakan tiba-tiba bringas hanya demi berebut produk konsumerisme yang ditawarkan oleh kaum kapitalis perkotaan. Ketika harga produk didiskon hingga 80%, libido konsumsi masyarakat menjadi tak terkendali. Sehingga, mereka lupa bahwa barang yang dibelinya sejatinya kurang bernilai dalam hal kegunaannya.

Tanpa berfikir panjang apakah produk yang dibelinya akan menambah tumpukan barang di rumah mereka. Misalnya, di rumah mereka masih banyak pakaian yang layak pakai. Karena diiming-imingi pesta diskon, maka pakaian yang ada justru dianggap tak layak pakai dengan alasan keusangan alias tidak memiliki nilai kebaruan.

Kalau hendak diteliti, pelbagai produk yang didiskon pada hari itu hampir tidak jauh beda dengan program diskon pada waktu lainnya. Tetapi, pengemasan wacana diskon acara SSF tampak begitu massif dan intensif. Contohnya, di Matahari Departemen Store terdapat program belanja beli 2 gratis 1 atau beli 1 gratis 1. Itu pun ditambah potongan harga hingga 50%. Malangnya, program belanja itu hanya berlaku pada jenis merk tertentu saja. Dalam moralitas ekonomi, program belanja seperti ini sungguh tidak adil. Bagi kaum perempuan kebanyakan, membeli produk dari jenis merk yang sama sangatlah menjengkelkan. Karena, membuat mereka tidak bebas menentukan pilihan produk lainnya, apalagi, tanpa dikenakan program diskon yang sama. Kamuflase diskon tersebut teridentifikasi cara paling praktis dari korporasi untuk merusak kewarasan berfikir masyarakat.

Selain itu, terdapat juga program belanja semua produk pakaian hanya dengan Rp. 35.000 saja. Hal tersebut merupakan fenomena yang cukup menarik dimana angka 35.000 dapat terjangkau semua kelas. Bahkan, kuli bangunan saja bisa menikmati perayaan SSF ini. Fenomena baju All Item Rp. 35.000 ini tengah menyebar luas dan merambah hingga daerah-daerah kabupaten kota di sekitar Surabaya.

Padahal, cikal bakal program belanja Rp. 35.000 itu bermula dari outlet-outlet kecil yang ada di Surabaya. Tidak tanggung-tanggung, sekelas mall yang tergolong pusat belanja termegah saja turut memberlakukannya. Serangan all item Rp. 35.000 secara tidak langsung mengaburkan batas antara mall dan toko sederhana di sudut-sudut kota. Anehnya, kalangan kelas menengah begitu antusias menyambut serangan all item Rp. 35.000 ini. Maka, tidaklah heran mengapa Baudrillard (2004: 8) menyebut mall dengan istilah drugstore alias ‘gudang’ minuman beralkohol. Siapapun yang mencoba-coba terpengaruh kenikmatan berbelanja di mall pada akhirnya akan kecanduan sebagaimana layaknya penikmat minuman beralkohol di drugstore.

Media massa pun turut berperan aktif menyokong menjamurnya budaya konsumsi. Melalui gempuran iklan baik di media cetak, elektronik, maupun di media sosial, sasarannya menjangkau semua kelas sosial. Sehingga, pada saat pelaksanaan SFF berbagai pusat belanja modern di Surabaya dipadati para konsumen dari kalangan pengusaha, pejabat, intelektual, hingga penjual gorengan. Itulah sebabnya, makna konsumsi bukan lagi terkait dengan nilai tukar dan nilai guna suatu barang. Menurut Williams dalam Featherstone (2001: 48) istilah konsumsi berarti juga menggunakan barang, menyia-nyiakan waktu luang, menghaburkan uang, sekaligus merusak kondisi kemanusiaan. Rusaknya kondisi kemanusiaan ini bisa dilihat dari hubungan sosial yang ditentukan atas dasar kepemilikan produk konsumtif antara satu orang dengan orang lainnya. Kondisi ini sangat terasa dalam suasana perayaan lebaran atau hari natal tahunan. Di sana kadang saya merasa sedih.

Daftar Pustaka
M. Featherstone, 2001. Posmodernisme dan Budaya Konsumen, Yogjakarta: Pustaka Pelajar
J. Baudrillard, 2004. Masyarakat Konsumsi, Yogjakarta: Kreasi Wacana

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...