Menu
Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Australia 1972 cacat hukum

Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Austr…

Kupang-KoPi| Penulis Bu...

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tidur untuk pertanian

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tid…

Akademi Militer - Gubernu...

Gus Ipul berharap semua terbiasa baca shalawat

Gus Ipul berharap semua terbiasa ba…

  Surabaya-KoPi| Wa...

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Sleman-KoPi| Universita...

Teliti isu multikultur dalam film Indonesia

Teliti isu multikultur dalam film I…

Bantul-KoPi| Sejarah pe...

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Sektor UMKM

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Se…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan kedaulatan Laut Timor

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan k…

Kupang-KoPi|Pembela nel...

Kapolda DIY segera lakukan operasi pasar kontrol harga beras

Kapolda DIY segera lakukan operasi …

Sleman-KoPi|Kepala Pold...

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY digeser

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY d…

Sleman-KoPi|Polda DIY m...

Pengedar Sabu di Sleman berhasil ditangkap jajaran Polres Sleman

Pengedar Sabu di Sleman berhasil di…

Sleman-KoPi| Satuan res...

Prev Next

Sepakbola dalam mental kekerasan suporter

Sepakbola dalam mental kekerasan suporter

Berikut adalah hasil diskusi KoPi dengan pakar konflik dan kekerasan dari Universitas Airlangga, Novri Susan. Laporan diskusi disajikan sebagai artikel di Antitesis oleh Ranang Aji SP (Pemred KoPi). Selamat menyimak.


Sepakbola bukan sekedar olahraga namun realitas sosial. Sedangkan realitas sosial merupakan definisi tentang gambaran-gambaran keseharian, tentang benar dan salah, atau baik dan buruk. Realitas selalu dikonstruksi, atau diciptakan, oleh konteks sosial para aktor. Seperti halnya sepakbola sebagai realitas sosial merupakan definisi para aktor dalam konteks sosial tertentu tentang gambaran-gambaran hidup.

Akar pengetahuan

Suporter adalah para aktor yang menciptakan realitas sepakbola. Sumber dari penciptaan realitas adalah akar pengetahuan yang disusun oleh berbagai aliran pengalaman terkait sepakbola dan pengalaman-pengalaman lain yang dianggap relevan bagi realitas sepakbola. Sedangkan aliran pengalaman bisa berbentuk peristiwa langsung dari para aktor dalam kejadian-kejadian sosial seperti perkelahian atau kerjasama. Selain itu aliran pengalaman bisa berbentuk proses sosialisasi aktor penting terhadap aktor-aktor lain.

Menurut Novri Susan akar pengetahuan bisa terlacak melalui bahasa-bahasa keseharian baik dalam aksi (interaksi), komunikasi langsung sehari-hari secara verbal, dan teks-teks dalam pamflet, baliho atau media sosial. "Bahasa merepresentasikan akar pengetahuan yang digunakan untuk memperkuat realitas kelompok, sekaligus sebagai alat berinteraksi dengan aktor-aktor lain di luar kelompoknya. Bahasa menjadi tanda telah disepakatinya bentuk pengetahuan." (Novri Susan, wawancara, 19 Desember 2015).

Bahasa dengan kata lain adalah proses dari konstruksi sosial atas kenyataan. Sepakbola menjadi realitas sosial para suporter melalui bahasa-bahasa yang telah disepakati sebagai representasi akar pengetahuan. Setiap kelompok suporter menggunakan bahasa masing-masing sehingga menciptakan realitas yang membedakan dengan kelompok lain (optimal distinctiveness). Pada level ini bahasa secara sukses menciptakan keidentitasan kolektif kelompok-kelompok suporter.

Keidentitasan-keidentitasan kolektif, para suporter, bertemu di arena-arena interaksi, baik langsung ketika pertandingan sepakbola dan tidak langsung melalui berbagai media sosial. Pertemuan keidentitasan kolektif menciptakan konsekuensi tertentu sesuai isi dari konstruksi sepakbola sebagai realitas. Sepakbola berdasar pada pembacaan kasus-kasus nasional, merupakan realitas tentang gambaran harga diri, kehormatan, dan sekaligus keidentitasan kolektif. Oleh karenanya, pertandingan sepakbola adalah pertandingan harga diri, kehormatan dan 'pertermpuran' dari para identitas kolektif.

Pada garis historis masyarakat manusia harga diri, kehormatan dan keidentitasan kolektif merupakan garis pertempuran demi eksistensi atau keberlangsungan sosial. Maka tidak bisa dihindarkan, para supoter melihat atau meyakini sepakbola sebagai realitas pertempuran demi keberlangsungan sosial. Sedangkan pertempuran secara etimologi berarti pertarungan besar dua kelompok atau lebih yang di dalamnya adalah praktik-praktik kekerasan.

Mental kekerasan

Sepakbola menjadi realitas pertempuran bagi para suporter yang praktik kekerasan direproduksi. Kekerasan secara bahasa seperti stigma, ejekan, atau pelecehan, serta kekerasan fisik yang merusak, melukai dan membunuh. Kasus praktik kekerasan pada laga sepakbola antara Surabaya United melawan Arema Cronus pada Piala Sudirman (19/12/15). Dua suporter Aremania meninggal dunia setelah dikeroyok suporter dari Crocodile United pendukung Surabaya United (bukan Bonek). 

Pengeroyokan, penganiayaan, dan perusakan mobil angkut suporter Aremania merupakan konsekuensi dari akar pengetahuan yang mendefinisikan sepakbola sebagai realitas pertempuran. Apakah suporter Aremania memiliki kemungkinan mereproduksi kekerasan yang sama? Tentu saja, sebab suporter Aremania juga memiliki akar pengetahuan sepakbola sebagai realitas pertempuran. Kedua suporter memiliki akar pengetahuan yang ketika pertandingan sepakbola berlangsung, atau bahkan usai, berarti proses pertempuran sedang berlangsung.

Realitas sepakbola sebagai pertempuran memiliki kemungkinan terus dipelihara dan disosialisasikan di antara para anggota suporter. Oleh karenanya praktik-praktik kekerasan suporter akan menjadi bagian dari sepakbola. "Kekerasan para suporter dengan akar pengetahuannya dilegitmasi sebagai pembelaan kehormatan, harga diri, dan keidentitasan kolektif. Maka sesungguhnya sepakbola berada dalam mental kekerasan." (Novri Susan, wawancara, 18 Desember 2015).

Mental kekerasan selalu terbangun dari akar pengetahuan. Jika akar pengetahuan para suporter tentang sepakbola sebagai pertempuran, kemungkinan reproduksi kekerasan tidak kecil. Pada kondisi kuatnya mental kekerasan pada kolektif para suporter, sepakbola sebenarnya berkontribusi terhadap masalah-masalah sosial termasuk kriminalitas.

Lantas bagaimana jika mental kekerasan merupakan bagian dari kehidupan para suporter? Salah satu upaya fundamental bukanlah sanksi melalui hukum kriminal, walaupun tetap bisa dilakukan. Akan tetapi upaya fundamental tersebut adalah proses mengisi ruang-ruang publik, termasuk media, dengan realitas-realitas nirkekerasan tentang sepakbola. Negara dan masyarakat sipil bertanggung jawab terhadap upaya ini. |Ranang Aji SP (Pemred KoPi)

 

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...