Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Relasi keintiman komunitas marjinal

tweeks.com tweeks.com

Oleh : Kanthi Nastiti dan Kun Sila Ananda


Hubungan romantis berbeda dengan jenis cinta yang kita rasakan pada teman ataupun anggota keluarga. Hubungan romantis merupakan hubungan antara dua orang yang melibatkan komitmen, hasrat, dan keintiman. Ada tiga karakteristik unik hubungan romantis, antara lain: komitmen, hasrat, dan keintiman. Sementara itu, ciri romantis sendiri terdiri dari beberapa aspek antara lain: hasrat, keinginan, idealisme, dan rasa sakit.

Tahapan-tahapan suatu hubungan romantis dapat dibedakan sebagai berikut (Gamble & Gamble, 2005:241-242): 1) Initiating. Tahap ini mencakup hal-hal yang terjadi ketika individu pertama kali membuat kontak dengan individu lainnya; 2) Experimenting. Setelah melewati tahap perkenalan, individu mulai mencoba mengetahui lebih banyak mengenai orang lain; 3) Intensifying. Ketika mencapai tahap ini dan telah melewati tahap eksperimen, orang-orang mulai menjadi teman. Tahap ini adalah tahap dimana individu yang berdasarkan pada “saya” akan berubah menjadi “kita”; 4) Integrating. Pada tahap ini, “saya” dan “saya” dalam dua individu yang awalnya berbeda mulai melebur. Mereka kemudian dikenal sebagai pasangan; 5) Bonding. Pada tahap ini hubungan kemudian diumumkan pada masyarakat, sehingga, hubungan antara masing-masing individu tidak lagi secara informal, namun telah dilegitimasikan.
   
Pemaknaan atas hubungan romantis juga bisa dikaji berdasarkan perspektif interaksionisme simbolik. Ada beberapa prinsip dasar perspektif interaksi simbolik, yaitu: 1) Tidak seperti binatang, manusia ditopang oleh kemampuan berpikir; 2) Kemampuan berpikir dibentuk oleh interaksi sosial; 3) Dalam proses interaksi sosial orang mempelajari makna dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berpikir tersebut; 4) Makna dan simbol memungkinkan orang melakukan tindakan dan interaksi khas manusia; 5) Orang mampu memodifikasi atau mengubah makna dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan tafsir mereka terhadap situasi tersebut. Orang mampu memodifikasi, karena kemampuannya untuk berinteraksi dengan diri mereka sendiri, memikirkan tindakan yang mungkin dilakukan, menjajaki keunggulan, dan proses memilih; 6) Jalinan pola tindakan dengan interaksi diri kemudian menciptakan kelompok dan masyarakat. 
   
Dalam interaksionisme simbolik, Herbert Mead melibatkan gagasannya tentang konsep diri. Konsep diri dilihat sebagai kemampuan seseorang untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai subjek sekaligus objek. Mead mengidentifikasikan dua fase diri, yang disebutnya dengan “I” (Aku) dan “Me” (Daku). “I” adalah respon langsung individu terhadap individu yang lain. Dia tidak dapat dikalkukasi, tidak dapat diprediksi, merupakan aspek kreatif diri. “I” bereaksi terhadap “Me” yang merupakan serangkaian sikap terorganisasi dari orang lain yang diandaikan oleh seseorang (Ritzer & Godman, 2009:39).
   
Untuk menganalisis hubungan romantis bisa juga menggunakan teori penetrasi sosial. Konsep dasar dari teori penetrasi sosial ini berasal dari pemikiran Altman dan Taylor. Teori penetrasi sosial memberikan penjelasan mengenai proses dalam mengembangkan dan menjaga suatu hubungan sosial. Altman dan Taylor merujuk pada ‘bawang’ (peeling onion) sebagai model bagi teori penetrasi sosial. Bawang menunjukkan bagaimana komunikasi dalam hubungan dapat bergerak melalui banyak tahap keintiman. Perkembangan hubungan berdasarkan teori penetrasi sosial berkembang seperti mengupas lapisan bawang, dimana komunikasi sosial bergerak dari lapisan terluar hingga yang terdalam dengan dengan topik yang semakin meluas (DeVito, 1996).
Meneliti Komunitas Gay
   
Penelitian ini dilakukan pada IGAMA (Ikatan gay Arema Malang) yang merupakan lembaga pengembangan swadaya masyarakat yang bersifat sosial dan non-profit oriented yang menaungi para gay yang berada di Malang Raya. Didirikan pada 1 April 1993 dan memiliki ijin resmi No. 32 mulai 27 Agustus 2002. Selain sebagai organisasi, IGAMA juga merupakan sebuah komunitas informal bagi para gay yang berdomisili di Malang Raya. IGAMA banyak memberikan penyuluhan pada para gay mengenai kesehatan dalam berhubungan sesama jenis.
       
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil informan sebanyak enam orang (atau tiga pasang) gay. Para informan itu, antara lain adalah: a) Pasangan MD – AK, MD adalah seorang pria berusia 37 tahun dan berprofesi sebagai ketua IGAMA. MD adalah seorang gay terbuka. AK adalah seorang gay terbuka berusia 28 tahun. Saat ini, AK bekerja sebagai pengurus LSM IGAMA. MD dan AK telah menjalani hubungan romantis selama 4 tahun (mulai tahun 2008); b) Pasangan ER – SA, ER adalah seorang gay terbuka berusia 30 tahun yang sekarang bekerja di bidang wiraswasta. Sementara SA adalah seorang gay tertutup, berusia 32 tahun dan bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan asuransi di kota Malang. Keduanya telah menjalani hubungan romantis selama 3 tahun; c) Pasangan AN – RK. AN adalah gay terbuka yang berumur 39 tahun. AN berprofesi sebagai seorang karyawan pada perusahaan asuransi, dan sebagai pengurus dari LSM IGAMA. RK adalah seorang gay tertutup, berumur 36 tahun dan bekerja sebagai wiraswasta, dan freelancer rias pengantin. Pasangan AN – RK telah menjalani hubungan romantis selama 6 tahun. Hingga saat ini pasangan ini telah tinggal bersama selama kurang lebih 4 tahun.

Identifikasi romantisme kaum gay
      
Para gay melakukan identifikasi terkait identitas mereka sebagai seorang gay melalui simbol-simbol, baik bersifat verbal dan nonverbal. Simbol-simbol secara verbal melalui penggunaan istilah-istilah dalam bahasa gay, dan secara non-verbal melalui tatapan, wangi parfum, cara berpakaian yang dandy dan modis, tata rambut yang lebih klimis dan trendy, cara bicara yang lebih sopan, gestur dan sikapnya ketika berdiri, sikap duduk, memegang rokok, dompet, mengambil gelas minuman, dan lain sebagainya. 
   
Interaksi dengan teman bergaul memberikan dampak yang besar terhadap individu. Teman dapat memberikan nilai-nilai, informasi, serta pengalaman yang kemudian dijadikan sebagai referensi bagi individu untuk membuat suatu keputusan mengenai gay. Dalam hal ini informan sebagai individu tidak hanya memaknai objek yang diberikan oleh sumber yang berasal dari luar, tetapi individu juga melihat dirinya sebagai objek yang dikenai makna oleh orang lain, dan bagaimana individu tersebut memaknai dirinya sendiri.
   
Hal itu terjadi hampir dialami seluruh informan dengan bentuk yang berbeda-beda. Misalkan, interaksi yang terjadi antara MD dan Dede Oetomo, teman korespondennya, serta teman koresponden yang menjadi pasangannya. Juga pada AK dengan teman-teman kuliahnya yang kebanyakan adalah seorang gay. Pada ER dengan sahabatnya yang seorang lesbian, AN dengan teman laki-lakinya, serta RK dengan anggota komunitas IGAMA. Pada saat itulah, kemudian individu mengolah makna yang didapatkannya dari sumber luar serta makna yang telah dimilikinya melalui kemampuan berpikir. Hal ini kemudian yang memungkinkan individu menetapkan pilihan pada sesuatu berdasarkan apa yang telah diinterpretasikannya.
   
Terdapat lingkungan yang memberikan dukungan terhadap perilaku individu sebagai seorang gay, dan ada juga lingkungan yang tidak mendukung. Lingkungan serta suasana dalam lingkungan tersebut tentunya dipengaruhi oleh perilaku masyarakat di dalamnya. Dimana berdasarkan pandangan interaksionisme simbolik bahwa aturan-aturan yang ditegakkan pada suatu masyarakat bersumber pada perilaku kolektif dari masyarakat tersebut yang kemudian mendukung atau menghancurkan aturan-aturan yang ada di dalamnya. Mereka yang berada pada lingkungan yang mendukung justru lebih cepat berkembang menjadi gay yang stabil dan kemungkinan besar menjadi gay terbuka, seperti AN dan RK. Sementara beberapa informan yang merasa tidak didukung oleh lingkungan kemudian mengambil jalan lain. Yaitu, pindah tempat tinggal untuk dapat mengembangkan identitasnya sebagai seorang gay yang stabil. Misalkan, MD memutuskan pindah dari masjid ke rumah milik pasangannya. AK yang memutuskan pindah ke Jakarta. RK dan SA yang memutuskan untuk pindah rumah atau memiliki rumah sendiri, sehingga privasinya lebih terjaga dan lebih leluasa untuk menjadi diri sendiri sebagai seorang gay.
       
Berdasarkan pengalaman masa lalunya, para informan seringkali diperlakukan tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, misalnya didandani seperti anak perempuan atau dilarang bermain dengan anak laki-laki dan dianjurkan bermain dengan anak perempuan. Bahkan, sebagian besar beberapa informan pernah mengalami pelecehan seksual (sexual abuse) semasa anak-anak. Tindakan sexual abuse tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pengidentifikasian dirinya di kemudian hari setelah mereka dewasa. Peristiwa pahit ini lantas mengubah konsep mereka terhadap kaum laki-laki, termasuk pada identifikasi orientasi seksual mereka sendiri di masa sekarang.
       
Dengan demikian, banyaknya kasus-kasus pelecehan seksual (asusila) yang dilakukan oleh kaum pedofelia terhadap anak-anak kecil, khususnya anak laki-laki di sekolah dan di sekitar rumah mereka, perlu mendapatkan perhatian yang serius dari penegak hukum, masyarakat, orang tua, dan pemerintahan yang baru. Sebab, ini bukan hanya perkara perubahan orientasi seksual para korbannya, melainkan juga stabilitas mental generasi bangsa ini di masa yang akan datang. Mohon perhatiannya ! Sekian dan terima kasih.

-Dosen muda di Prodi Sosiologi FISIP-Universitas Brawijaya, Malang.

NB: tulisan di atas disarikan dari hasil hibah penelitian prodi untuk para dosen muda

back to top
UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen Sosiologi Unesa, kandidat doktor S...

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...