Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Negara dan ambang keruntuhan

Negara dan ambang keruntuhan
Negara dan struktur sosial merupakan medan penentu terbangunnya perdamaian secara politik, ekonomi dan sosial kebudayaan. Diskursus perdamaian berada di antara keduanya. 

Perdamaian merupakan kata yang merepresentasikan dua hal, yaitu makna sakralitas dan ideal kebahagiaan hidup. Masyarakat-masyarakat dunia dalam alur sejarah klasiknya mengintegrasikan diri mereka kedalam makna-makna sakral tentang eksistensi kehadiran manusia di dunia kehidupan dan alam semesta. Eksistensi kehadiran manusia yang muncul melalui pertanyaan mengenai siapa diri manusia di tengah alam semesta yang luas.

Pertanyaan mendasar yang menjadi awal mula bagaimana kesakralan dan kebahagiaan hidup diterjemahkan dalam usaha-usaha manusia. Usaha-usaha pencapaian sakralitas dan kebahagiaan hidup tersebut diproses kedalam dunia usaha-usaha yang kompleks, penuh cerita heroik, kategorisasi benda-benda, sampai tata cara melakukan pemenuhan kebutuhan material dalam semesta alam yang menyediakan apapun yang dibutuhkan dan sekaligus menyediakan ancaman-ancaman mematikan.

Kelompok manusia klasik sebelum sejarah, kalangan modernis menyebutnya masyarakat primitif, melakukan perburuan binatang di hutan, belajar mencipatkan alat (teknologi) untuk mempermudah proses penangkapan, lalu mereka mencatat pengalaman menghadapi binatang-binatang buas, mentestimoni manusia yang berani dan menyelamatkan kelompok dari bahaya-bahaya alam dalam bentuk cerita imajinatif, sampai melakukan pembagian tugas-tugas keseharian kelompok seperti siapa harus berburu dan siapa harus menjaga rumah.

Dunia usaha-usaha manusia menjadi pengalaman yang menumpuk dalam pikiran dan visi manusia tentang hidup mereka. Menjadi pengetahuan yang matang dan mapan mengenai kesakralan hidup mereka dan bagaimana kebahagiaan bisa diciptakan pada tingkat yang sangat individual sampai tingkat kolektif. Hakikatnya pengetahuan yang matang dan mapan tersebut adalah mode of peace (cara perdamaian) untuk mendapatkan makna sakralitas dan kebahagiaan hidup.

Mode of peace yang mengajarkan pada generasi muda mengenai kesakralan hidup mereka dan tata cara kebahagiaan harus dilakukan pada tingkat individu dan kolektif. Masyarakat manusia menerjemahkan makna sakral dan ideal kebahagian hidup tersebut dengan menciptakan berbagai usaha di permukaan bumi yang dianggap mampu membawa perdamaian. Usaha-usaha tersebut terus direproduksi sebagai pengetahuan yang memberi suatu cara praktek tertentu, membentuk norma yang dilegitimasi oleh pandangan-pandangan yang murni, Berger dan Luckman (1966) menyebutnya sebagai supremacy of knowledge. Yang selanjutnya disosialisasikan tanpa henti dari generasi dulu ke generasi sekarang, dan ke generasi masa datang. Untuk menjaga reproduksi aktivitas perdamaian, masyarakat manusia menempatkan pengetahuan mengenai perdamaian melalui simbol-simbol (dunia arti simbolis) yang diagungkan dan dipelihara secara sosial. Seperti masyarakat Mesir kuno menggunakan matahari untuk menampung semua makna sakralitas dan ideal kebahagiaan hidup, atau masyarakat Inca yang menggunakan bulan purnama sebagai simbol kemakmuran dan jaminan kesuburan semesta.

Agama yang tumbuh dalam setiap konteks sejarah masyarakat manusia pun mengklaim sebagai mode of peace, menawarkan cara pencapaian sakralitas dan kebahagian hidup. Agama-agama mainstream seperti Islam, Kristen, Hindu, yahudi, dan Budha juga mengklaim eksistensinya sebagai mode of peace melalui struktur pengetahuan dan praktek dalam dunia hidup (lebenswelth).

Masyarakat Kompleks dan Konflik

Mari kita sebut arah perkembangan sejarah manusia yang berkelompok, membentuk komunitas, dan mempraktekkan mode of peace dalam lintasan bumi yang semakin sempit, oleh ekspansi mode of peace tersebut, sebagai masyarakat kompleks (complicated society). Praktek dari mode of peace berorientasi pada pemenuhan sakralitas dan kebahagiaan hidup komunitas, terbatas, dan subyektif. Pada saat bersamaan sumber material yang digunakan untuk mendukung tercapainya pemenuhan kebutuhan tidak cukup, atau ditafsirkan tidak cukup, sehingga mendorong praktek dari mode of peace melakukan perluasan teritori. Sejak masa sejarah tulis, dari masa Yunani kuno sejak 800 SM sampai kekalifahan Islam pada abad 8-14 M perluasan teritori menjadi, istilah Ibnu Khouldun, fakta hukum sejarah. Perluasan berarti munculnya kontak-kontak sosial baru dari berbagai mode of peace yang menghuni teritori tertentu. Pada kejadian kontak-kontak inilah terbentuk masyarakat dunia yang semakin kompleks oleh lintas interpretasi subyektif, klaim antar mode of peace, dan revitalisasi mode of peace. Revitalisasi mode of peace yang menonjol dan mempengaruhi kompleksitas masyarakat kontemporer muncul melalui revolusi industri di Inggris pada abad ke-19.

Revolusi industri, pasca perang Salib pada abad ke-13 sampai ke-17, mendefinisikan mode of peace sebagai perluasan komoditas dari produksi masal, yang diciptakan bukan sekedar memenuhi kebutuhan namun akumulasi modal dan kepuasaan hedonis di kalangan kelas borjuis. Perluasan baru mode of peace dari masyarakat industri dimulai pada abad ke-19, ditandai oleh ekspansi Great Britain ke negara-negara Asia terutama India. Secara umum, masyarakat Eropa yang merevitalisasi mode of peace, melakukan perluasan teritori dengan melakukan ekspansi. Tujuan baru dari mode of peace masyarakat Eropa adalah matreu un valeur (Wallerstein, 2003), yaitu mengeksploitasi dan mengambil apapun yang bisa digunakan untuk memenuhi mode of peace masyarakat industry. Praktek struktural dari mode of peace tersebut menciptakan narasi konflik global dari Afrika, Asia, sampai Amerika.

Respon mode of peace masyarakat-masyarakat yang dijajah dalam jangka panjangnya adalah perlawanan, namun sekaligus mewarisi mode of peace masyarakat industry Barat. Masa kolonialisme adalah masa revitalisasi mode of peace asali melalui hubungan kolonialistis, melahirkan mode of peace yang mirip dan ekletif. Fakta terbentuknya negara modern di dunia jajahan masyarakat Eropa adalah bukti empiris revitalisasi mode of peace dalam banyak kasus. Sehingga perlawanan terhadap penjajahan pun sebenarnya adalah praktek mode of peace penjajah.

Kemunculan Indonesia sebagai negara bangsa pada abad ke-20 pun adalah buah dari narasi konflik global yang melibatkan kepentingan pasar, negara modern baru, identitas keagamaan dunia Barat. Segitiga kepentingan dunia Barat ini berkolaborasi menciptakan penetrasi masif melalui entitas kekuatan masing-masing. Pasar dengan rasionalisme ekonominya, negara modern dengan militernya, dan identitas keagamaan dengan klaim penyelamatan peradaban. Kekuatan segitiga kepentingan dunia Barat ini muncul bersama dalam slogan 3G; Gold (kekayaan/keuntungan), Glory (kejayaan negara), dan Gospel (penyelamatan peradaban). Ketiga entitas kekuatan ini berada dalam satu kapal penjelajah yang mengekspansi ke seluruh pelosok dunia, dari Afrika, Amerika Latin, dan Asia. Kapal penjelajah Kerajaan Inggris Raya mengkolonisasi India sekitarnya, Perancis menguasai Mesir, Spanyol dan Portugis berbagi untuk menguasai sebagian wilayah Amerika Latin, dan Belanda menguasai kepulauan Hindia Belanda (Nusantara) (Susan, 2009). 

Negara dan Demokrasi

Jika tidak terlalu simplistis, kemenangan negara-negara yang dijajah Eropa dengan mendirikan negara-negara modern baru membuahkan berbagai persoalan baru. Masyarakat poskolonial adalah masyarakat kompleks, yang telah direduksi mode of peace asali mereka, dan sekaligus diseret terus dalam berbagai kontak baru dalam percaturan global dan intrastate (dalam negara). Untuk itu, pasca kolonialisme, dan terutama pasca perang dingin sebagai sisa perang mode of peace, konflik intrastate tiba-tiba meningkat tajam dan merugikan eksistensi manusia sebagai manusia (Ashutos Versany, 2003). Pembantaian etnis di Kosovo, di Sierra Leon, konflik berdarah di beberapa wilayah Indonesia seperti Ambon, Poso, dan Kalimantan. Pada saat bersamaan, negara sebagai salah satu bagian dari praktek baru mode of peace masyarakat Barat menghadapi kondisi-kondisi kultural yang jamak (multikutural) dan tuntutan nasionalisme elitis.

Pada konteks keindonesiaan pilihan terhadap demokrasi sebagai bagian dari mode of peace adalah bentukan nyata dari masyarakat kompleks yang pada satu sisi membicarakan nasionalisme, dan sisi lain membicarakan mode of peace masing-masing. Inilah masalah dalam masyarakat poskolonial yang mewarisi revitalisasi mode of peace masyarakat Barat. Bahkan Indonesia yang melewati masa klaim kemerdekaan selama 64 tahun masih saja berkutat dengan masalah mendasar ini, revitalisasi mode of peace, belum selesai, dan berbagai persoalan tidak pernah terjawab pasti, kemiskinan, korupsi, dan konflik kekerasan yang terus membayangi dunia sehari-hari.

Kerjasama nalar nasionalisme, negara bangsa, Indonesia adalah Pancasila dan UUD 1945, merupakan produk konstruktif dari dialektika nalar ekonomis, keagamaan, dan modernisme politik dalam narasi konflik global. Yang melewati proses dialektika nalar dan perlawanan politik terhadap kolonial Belanda, dan Jepang yang sempat meringsek keji pada tahun 1942-1945. Dialektika nalar yang melahirkan kerjasama nalar (trans-rationality), dengan mengutip Wolfgang Dietrich dalam A Call for Tran-Rational Peaces (2006), sebenarnya merefleksikan hasrat melawan dan sekaligus mendefinisikan keselamatan subyektif di hadapan narasi konflik global. Pada konteks negara bangsa Indonesia kerjasama nalar, hasrat melawan dan definisi kesalamatan subyektif, dari berbagai kepentingan dan identias diperlihatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Seperti teks yang membacakan hasrat pembebasan dari penjajahan dan penyelamatan manusia dengan kesejahteraan sosial.

Nasionalisme Indonesia adalah nalar perlawanan dan definisi penyelematan subyektif kebangsaan. Soekarno adalah presiden pertama dan terakhir di Indonesia yang menyadari nasionalisme sebagai nalar perlawanan dan penyelamatan subyektif kebangsaan. Ia menyadari bahwa Indonesia berada dalam narasi konflik yang diciptakan oleh segitiga kepentingan global yang rakus dan mematikan. Ia tidak menyerahkan sumber daya alam pada pasar, investor asing, tanpa persiapan kematangan teknologi bangsa. Keputusan politik ini adalah bentuk ’grievance’ nasionalisme. Yang dikonstruksi secara dialektis berbagai nalar kepentingan dan identitas para founding fathers bangsa ini dari berbagai daerah. Akan tetapi grievance nasionalisme tiba-tiba lenyap tanpa bekas dan kehilangan nalarnya ketika Soeharto tampil sebagai rejim Orde Baru (Orba).

Orde Baru adalah babak baru nasionalisme tanpa nalar, tanpa makna perlawanan dan penyelamatan subyektif kebangsaan. Rejim Orba menyerahkan tanah di Aceh, Papua, Kalimantan, sampai Papua untuk dikuasai oleh wajah baru pasar dan negara kapitalis. Nasionalisme bukan lagi merupakan nalar perlawanan dan penyelematan subyektif kebangsaan namun slogan koersif terhadap rakyat. Jika rakyat tidak sepakat dengan negara maka mereka akan disakiti bahkan mati.

Pada konteks politik Orba inilah nasionalisme adalah nalar kekerasan rejim. Karena rejim membuang makna nasionalisme sebagai nalar perlawanan dan penyelamatan rakyat. Melainkan melindungi pasar dan kepentingan neo kolonialisme negara-negara kapitalis. Siapapun yang menolak kebijakan rejim, yang didikte oleh pasar dan neo kapitalisme, akan dihancurkan atas nama nasionalisme. Pada fase sejarah inilah terjadi pembelokan, dari nalar nasionalisme menjadi nasionalisme represif. Nasionalisme represih merupakan instrumen kekerasan, menjadi bagian dari narasi konflik global yang menindas bangsa rakyat. Fakta ini tidak pelak mendorong lahirnya nalar-nalar perlawanan, dari Aceh sampai Papua.

Post-Nasionalisme

Tom Nairn dalam bukunya Global Matrix-Nationalim, Globalism and State Terrorism (2005) mengingatkan negara-negara bangsa bahwa globalisme adalah bentuk lanjut ekspansi pasar dan kolonialisme negara-negara neo kapitalis. Jika pada narasi konflik global abad ke-19 dan ke-20 muncul dalam bentuk ekspansi militer. Neo narasi konflik globalisme menciptakan kondisi post-nasionalisme dengan mencerabut kepemilikan sumber daya dan tanah-air tanpa menggugat isu teritori. Maka yang tampak adalah berbagai deregulasi pada aturan-aturan yang menghalangi usaha mencerabut kepemilikan. Kepemilikan rakyat terhadap tanah-air yang direpresentasikan oleh negara harus dibuang dengan menciptakan regulasi baru yang memungkinkan pasar menjadi pemiliknya.

Rejim hasil pemilu demokratis, seperti Megawati (2002-2004) dan SBY (2004-sekarang), selama masa pemerintahannya pun melakukan berbagai deregulasi dan privatisasi. Seperti privatisasi perguruan tinggi negeri dan BUMN. Akibatnya sumberdaya manusia Indonesia pun kedepannya adalah menjadi hak milik pasar, bukan bangsa ini. Perusahan-perusahaan yang menguasai hajat hidup orang banyak diserahkan pada swasta. Sumber daya mineral, minyak dan gas, dikuasai oleh kapitalisme asing daripada negara. Akibatnya kekayaan bangsa ini lebih banyak mengalir ke tangan-tangan asing daripada anak bangsa. Fakta-fakta politik ini hanya membuktikan bahwa nasionalisme sebagai nalar perlawanan dan pendefinisikan keselamatan subyektif bangsa tidak ada dalam kamus kepemimpinan politik mereka.

Nalar rejim politik di era demokrasi ini bukan merupakan nalar perlawanan dan pendefinisian keselamatan subyektif bangsa, sebagai bentuk kerjasama nalar yang menjadi supremasi pengetahuan dan konstitusi negara. Mereka telah keluar dari nalar nasionalisme dan menjadi post-nasionalisme secara politik. Sebagaimana yang diingatkan oleh Tom Nairn di atas. Lebih lanjut menurut Tom Nairn (2005) post-nasionalisme politik mungkin saja tetap menjaga stabilitas dan keutuhan teritori. Sebagaimana Megawati, dan terutama sekali SBY, yang mengklaim berhasil menjaga keutuhan wilayah negara. Namun negara ini sudah tidak menjadi ’pemilik’ substantif atas tanah-air dan berbagai sumberdayanya.

Dus, hancurnya nalar nasionalisme yang telah dibangun oleh founding fathers sebagai hasrat melawan dan pendefinisian penyelematan subyektif kebangsaan berakar dari kegagalan mengharmonikan relasi negara dan struktur sosial (asal perdamaian). Sehingga nasionalisme menjadi malas melawan narasi konflik global abad ke-21.

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...