Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Mitos di balik Kali Brantas

Mitos di balik Kali Brantas

Oleh: Ardhie Raditya


Tahun 2002, PBB menyatakan bahwa air adalah bagian penting dalam hak EkoSoB (ekonomi sosial budaya) masyarakat dunia. Sebagai wujud partisipasi dunia ini, pemerintah kita juga mengeluarkan UU No.7 tahun 2004 tentang sumber daya air, PP No. 16 tahun 2005 tentang penyedian air minum yang bersih dan layak konsumsi, dan PP No. 20 tahun 2006 tentang irigasi. Dan, masih banyak peraturan hukum lainnya di negeri ini yang mengatur tentang hak mendapatkan dan mengelola air.
   
Karena itu, membicarakan air bukan sekedar berbicara aspek fisik, geografis, ataupun statistika air yang biasanya mengerucut pada kerja-kerja teknis PDAM, pengelola DAS, dan institusi terkait lainnya. Pada konteks itulah, BLH Jawa Timur mengadakan acara workshop, pelatihan dan “kuliah tamu” tentang pelestarian dan pengelolan DAS (daerah aliran sungai) Brantas, suatu sungai terbesar di Jawa Timur dan hampir menyamai DAS Bengawan Solo di Jawa Tengah. Acara ini diadakan di Hotel Merdeka-Kediri selama tiga hari (12-14 November 2014). Banyak pakar dalam bidang ekonomi, ekologi, perikanan, sosial dan budaya, diundang menjadi narasumber. Kebetulan, Saya dipercaya mengkaji tema kearifan lokal masyarakat di sekitar DAS Brantas. Aliran kali Brantas ini hulunya berada di daerah Malang-Batu, mengalir terus sampai jauh ke Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya.  
   
Di Jawa Timur, keberadaan sungai Brantas ini sangat strategis. Panjangnya mencapai sekitar 320 Km yang mencakup 25% luas provinsi Jawa Timur dan 9% luas pulau Jawa. Arus aliran sungainya menyurusi kurang lebih 17 kabupaten-kota di Jawa Timur. Jumlah penduduk di sekitar DAS Brantas mencapai 51% dari total penduduk Jawa Timur (Jatim). DAS Brantas ini berfungsi sebagai konsumsi, energi, penunjang ketahanan penagan, serta produksi bagi pertanian (irigasi). Berdasarkan IPPL (indeks prestasi peduli lingkungan) menunjukkan angka yang tinggi sekitar 0,60. Angka ini sungguh menggembirakan karena posisinya di atas IPPL nasional yang bertengger di kisaran 0,57. Begitulah, laporan ketua panitia acara pengelolaan lingkungan hidup ini, Ir. Udaharipantjoro, M.M. 

Mitos Penyelamatan Brantas
   
Problem utama yang dihadapi DAS Brantas sungguh beragam. Ancaman terbesarnya adalah bersifat sosial dan budaya. Pembuangan sampah secara sembarangan, limbah industri yang tidak memperhatikan AMDAL, pembalakan hutan liar, serta penambangan pasir ilegal adalah persoalan yang hingga kini belum selesai diatasi. Atas dasar itulah, Gubernur Jatim, Soekarwo (yang akrab disapa Pakde Karwo) kemudian mulai turun tangan untuk mengatasi ancaman bagi DAS Brantas itu melalui program kepedulian dan penyelamatan sungai Brantas dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Salah satunya dengan menyelenggarakan pameran dan workshop yang melibatkan LSM lingkungan yang konsern terhadap penyelamatan sungai Brantas. “Kepedulian akan keberlangsungan dan keberlanjutan DAS Brantas menjadi bagian isu sentral program pembangungan gubernur Jatim ke depan”. Itulah petikan wawancara tim litbang Koran Opini.com (KoPi) dengan Ir. Dyah Larasayu, M.M, salah satu panitia dan staf bidang komunikasi BLH Jatim. 
   
Sekalipun demikian, penyelamatan DAS Brantas juga akan mengalami dilema, karena masyarakat pascamodernitas saat ini berada diantara serbuan budaya yang tidak tunggal. Jadi, munculnya ancaman terhadap sungai Brantas itu tidak bisa lagi dilihat dari hubungan sebab-akibat yang linier. Penambangan pasir ilegal misalnya bukan lagi berakar dari ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum semata. Melainkan juga, karena efek globalisasi yang eksistensi dan kehadirannya menciptakan kondisi fragmentasi, ketidakstabilan, dan keterputusan budaya masyarakat setempat.
   
Analisis Annabelle Sreberny mengenai “The Global and the Local in International Communication” (dalam Kellner dan Durham, 2006) tentang globalisasi tampak amat relevan disajikan di sini. Menurutnya, setidaknya ada tiga analisis perkembangan globalisasi saat ini. Pertama, berdasarkan analisis komunikasi dan pembangunan bahwa globalisasi hadir ke dalam bentuk tawaran proyek kebijakan dari negara maju ke negara berkembang (“dunia ke tiga”). Kedua, secara analisis imperalisme kultural menunjukkan bahwa globalisasi hadir ke negara berkembang karena arus teknologi-informasi seperti media. Media menjadi semacam “software” budaya yang menjajah secara hegemonik dari negara maju ke negara berkembang.

Ketiga, berdasarkan analisis pluralisme global yang mengasumsikan arus globalisasi kini tak lagi di seputar negara maju (sebagai “pusat”) mengalir deras ke negara berkembang (“pinggiran”), namun juga sebaliknya. Maraknya film dari negara berkembang yang sukses di dunia maju, seperti film India, Cina, Jepang dan Korea adalah buktinya. Atau juga, maraknya festival budaya di negara berkembang yang menghibridkannya dengan budaya negara maju. Contohnya antara lain: JFC (Jember Fashion Carnaval) di Jember, konser Jazz Gunung di Bromo, Pagelaran musik etnik internasional di Solo, festival budaya Glethek di DAS sungai bengawan Solo, dan lainnya. Berbagai budaya hibrid ini menyita perhatian publik, dari lokal ke nasional hingga ke pentas dunia. Budaya ini tersebar luas tentu saja karena adanya peran media.

Merujuk pandangan di atas, maka Brantas tidak sekedar dimaknai sebagai ekologi dan kebijakan pembangunan semata. Pandangan ini perlu diretakkan dan dicairkan. Karena itulah, sungai Brantas harus dimaknai sebagai praktik kultural. Dengan asumsi bahwa sungai bukan hanya sebagai sumber kehidupan dan keseimbangan hidup antara kekuatan mikrokosmos dan makrokosmos. Lebih dari itu. Sungai adalah arena reproduksi mitos budaya yang berorientasi pendauran ulang makna (re-embedding) sejarah dan tradisional melalui peran-peran media baru, seperti film, novel, dongeng, puisi, media online, konser musik, iklan, tontonan budaya, video dokumenter, dan lainnya. Kemudahan akses internet saat ini sangat memungkinkan praktik budaya di Brantas itu dapat tersebar luas dan menggugah empati sekaligus kesadaran akan kepedulian dan strategi penyelamatan lingkuhan DAS Brantas.

Mitos seringkali disalahartikan sebagai praktik pemujaan yang kadangkala menyulut konflik budaya diantara anggota kepercayaan tertentu. Padahal, mitos adalah praktik wacana, bentuk-bentuk diskursus. Ini bukanlah perkara kelompok dominan tertentu dianggap lebih religius dibandingkan kelompok minoritas “yang lain”. Melainkan, mitos hadir karena urusan memaknai dengan cara yang berbeda, lebih kreatif, dan ungkapan ekspresi masyarakat untuk menjadikan sungai Brantas sebagai ladang penyadaran akan keberlangsungan hidup generasi yang akan datang. Saatnya Brantas “bergerak” melawan mereka yang tidak peka akan masa depan kehidupan generasi bangsanya. Titik !

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...