Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Memudarnya ruang kognitif mahasiswa

Memudarnya ruang kognitif mahasiswa

Oleh: Raudlatul Jannah


Kegelisahan Aquarini Priyatna, PhD di rubrik Antitesis ini tentang fenomena sebagian besar mahasiswanya yang krisis dalam kultur membaca tidak bisa dianggap remeh. Saya juga mengalami hal serupa. Barangkali, di hampir banyak kampus juga demikian adanya. Zigmunt Bauman melukiskan situasi ini sebagai fenomena memudarnya ruang kognitif yang ditopang oleh ruang moralitas manusia (Strinati, 2009:15).

Dalam beberapa karyanya, Bauman (Modernity and The Holocaust: 1989; Modernity and Ambivalence: 1991; Postmodern Ethics: 1993) berusaha untuk menjelaskan ciri zaman kontemporer. Salah satunya adalah saat Bauman menjelaskan mengenai moral sosial, dimana terdapat ketegangan antara ruang kognitif, estetik, dan moral.
Ruang kognitif merupakan ruang yang dibangun secara intelektual oleh penyelidikan (perenungan dan penelitian) dan penyebaran ilmu pengetahuan. Ruang estetik adalah ruang kultural yang dibangun untuk membangkitkan pengalaman batin yang dituntun keingintahuan serta pencarian bagi intensitas perasaan kesenangan dan kenyamanan. Ruang moral dibangun melalui penyebaran tanggung jawab sosial dan kemanusiaan (Seidman, 2008: 140).

Analisis Bauman tentang ruang estetik menjelaskan kepada kita tentang bagaimana sistem pendidikan kita terkena imbas dari masyarakat kekinian. Bauman menyebutkan bahwa hidup di jaman sekarang disarati penawaran beraneka macam kemungkinan kenikmatan yang banal. Sebagai ruang estetik, ruang pendidikan telah berubah menjadi ruang mencari hiburan. Bauman mencontohkan fenomena melancong sebagai fenomena kegembiraan permainan dan berburu kesenangan.

Itulah ciri dari sistem pendidikan nasional. Ciri-ciri ini terlihat misalnya dari perilaku mahasiswa yang “menikmati” kampus hanyalah sebagai bagian dari kegembiraan permainan. Kuliah dianggap sebagai kegiatan melancong (ke kampus) tanpa tujuan idealisme moral dan prinsip memahami ruang kognitif. Hal ini terlihat dari fenomena beramai-ramainya calon mahasiswa mengikuti ujian masuk perguruan tinggi hanya sebagai sebuah ritual pasca lulus Sekolah Menengah. Menjadi “tidak normal” jika setelah lulus Sekolah menengah kemudian tidak mengikuti SNMPTN. Apakah seluruh calon mahasiswa ini menyadari apa yang sedang dilakukannya ? Apakah para peserta SNMPTN ini memiliki kesadaran bahwa mereka akan memasuki wilayah kognitif dan ruang moralitas yang membutuhkan idealisme pemikiran dan kepekaan sosial kemanusiaa ?

Ketika lulus dan diterima menjadi mahasiswa di perguruan tinggi pilihannya, mereka akan menjalani masa orientasi. Seringkali situasi ini diwarnai dengan eforia (perasaan sangat senang) telah menjadi mahasiswa. Mereka bangga karena tidak semua orang dapat diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) melalui ujian SNMPTN. Hari demi hari kemudian berlalu, mahasiswa mulai bosan dengan ritual “melancong”nya. Kebosanan ini digambarkan dengan sikap-sikap fragmatis, bingung, tidak tahu mau kemana lagi. Lebih parah lagi, perasaan bosan yang berkembang ini menjadi perasaan terjebak: tugas-tugas kuliah dianggap sebagai beban, siksaan, dan merusak kenyamanan hidup sehingga harus dihindari. Maka tidak mengherankan jika kemudian banyak muncul cara-cara instan guna mencapai tujuan. Misalnya, plagiasi dan  membayar joki untuk mengerjakan tugas maupun untuk menyelesaikan ujian akhir (skripsi).

Tanggung jawab moral tak dikenal dalam ruang estetik. Bahkan, nilai permainan dan kesenangan yang menjadi pusat perhatian ruang estetik berlawanan dengan tanggung jawab moral (Seidman, 2008: 138). Jika kondisi ini menjadi gambaran realitas masyarakat modern (kontemporer), maka sangat mungkin bahwa inilah salah satu penyebab gagalnya pendidikan nasional.

Bauman mengamati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dipandang dari sudut etika. Ilmu Pengetahuan dan teknologi dimaksudkan sebagai hasil dari rasionalitas yang merupakan elemen terpenting dalam modernitas. Bauman mencoba menempatkan sisi positif dan negatif dari sudut yang berimbang (Seidman, 2008: 138).

Bauman melihat bahwa teknologi merupakan sistem yang tertutup. Teknologi menjadi otoritas yang mutlak dan sulit dikendalikan oleh manusia. Teknologi memecahkan masalah manusia dan teknologi memudahkan hidup manusia. Namun, teknologi juga menyengsarakan manusia dan seringkali menambah masalah manusia. Secara Sosiologis, teknologi mengubah pola relasi manusia, struktur sosial masyarakat, orientasi masyarakat dan karakter manusia. Semakin banyak masalah yang ditimbulkan oleh teknologi, semakin banyak lagi kemampuan dan ketrampilan teknologis yang dibutuhkan oleh manusia. Terjadilah situasi ketergantungan manusia terhadap teknologi yang senyatanya hasil pikiran dan kerja manusia itu sendiri.

Karakter manusia yang turut berubah ini lambat laut membentuk naluri manusia yang semakin eksploitatif, dominan, totaliter, dan tanpa moral. Karena, teknologi mengajarkan pada kita tentang kalkulasi rasional, untung rugi, manfaat praktis, kenyamanan, kesenangan dan hiburan. Bagi penggunanya, teknologi dilihat sebagai majikannya. Manusia telah menjadi hamba teknologi. Contohnya, mahasiswa yang “gila” gadget dan handphone terkenal secara tidak sadar telah menjadi konsumen setia pasar, sehingga, tidak bisa lagi membedakan antara kebutuhan dan ketagihan. Mereka cenderung lebih memilih membeli produk yang bermakna prestise sebagai kelompok hedonis, daripada membeli buku yang merupakan suatu kebutuhan dasar sebagai insan akademisi dan intelektual muda.

Haolocaust dan praktek birokrasi

Bauman dalam bukunya (Modernity And The Holocaust: 1989) menulis tentang holocaust (penghancuran sistematis) sebagai ciri masyarakat modern yang menjungjung tinggi rasionalitas instrumental. Bahkan Bauman melihat holocaust sebagai aspek normal dari kehidupan modern. Seperti dikatakannya (Bauman:1989:8), normal bukan dalam arti moral, melainkan dalam arti yang dapat diteladani dari pemegang otoritas legal-formal. Sehingga, penghancuran secara sistematis menjadi aspek normal dari kehidupan modern.

Jika pemikiran Bauman ini kita yakini benar, maka, dunia pendidikan sebagai bagian dari realitas modern itu turut melakukan holocaust secara samar-samar. Coba kita lihat saja, bagaimana birokrasi dalam pendidikan justru menjadikan pendidikan sebagai komoditas yang dapat diperjual-belikan tanpa mempertimbangkan aspek moral pendidikan. Praktek-praktek rekruitmen mahasiswa yang tanpa melalui jalur objektif seperti SNMPTN, berakibat pada rendahnya kualitas mahasiswa yang kemudian turut berakibat pada rendahnya mutu lulusan dan lalu berimbas pula pada rendahnya mutu tenaga profesional. Jalur mandiri misalnya, tak lagi mempertimbangkan kemampuan akademik dan pengetahuan bidang ilmu yang nantinya akan ditekuni dan dipelajarinya. Telah menjadi rahasia umum bahwa penentuan kelulusannya adalah kemampuan memberikan dana sumbangan pembangunan dan biaya pendidikan yang dipatok dengan harga yang tinggi. Kursi perkualiahan telah dijadikan ajang lelang: siapakah yang bisa membayar tinggi daripada pesaing lainnya, merekalah yang bisa berkuliah.

Birokrasi sebagai sesuatu yang melekat di zaman kekinian telah menghilangkan sisi kemanusiaan manusia. Birokrasi dalam tipe ideal Weber adalah birokrasi yang berciri adanya formalisasi prosedur yang ketat, hirarki yang panjang, spesialisasi kerja, dan impersonal. Bagi Weber, birokrasi itu tidak lebih sebagai sangkar besi (iron cage) yang telah menghilangkan pesona dunia manusia. Tetapi, Bauman lebih melihat birokrasi sebagai penyokong proses tak berprikemanusiaan (Ritzer: 573). Birokrasi diprogramkan manusia untuk bertindak optimum, sehingga aparatusnya tidak lagi mampu untuk membedakan secara jernih antara tujuan yang berperikemanusiaan dan tujuan yang tidak berkeperimanusiaan. Pada konteks inilah, acuan moral manusia menjadi sangat penting.

Penyataan Bauman ini mengingatkan kita pada adanya praktek birokrasi pendidikan yang ada saat ini ini lebih mengutamakan logika positivistik daripada logika humanis. Sebab, birokrasi berpraktek dengan standar kuantitatif yang rigid. Misalnya, keberhasilan peserta didik diukur berdasarkan jumlah kelulusan, kualitas belajar mengajar, dan ukuran lulus dari mata kuliah tertentu berdasarkan 75% kehadiran yang terpenuhi. Melihat prestasi mahasiswa hanya didasarkan pada angka IPK semata tanpa mempertimbangkan aspek lainnya (misalnya, bakat, prestasi menulis, pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, enterpreneurship, kemandirian, moral, keteladanan dan keterbatasan ekonomi mahasiswa). Pendidikan tinggi memberikan penghargaan terbaik kepada mahasiswanya yang mampu mendapatkan nilai kelulusan A di setiap mata kuliahnya. Apalagi, pada form penilaian dari para dosennya justru aspek keteladanan, kemandirian, moral, kejujuran, prestasi menulis, dan sisi kualitatif lainnya sulit diukur dan terkadang dianggap tidak terlalu penting.
Standar kuantitatif yang selalu dipakai oleh dosen dalam setiap form penilaiannya ini akhirnya mendapat respon yang sebaliknya dari mahasiswa. Seperti, munculnya cara instan dengan melakukan praktik plagiasi untuk memenuhi kewajiban mengumpulkan tugas saja. Dari situasi sederhana ini saja, bagaimana mungkin kita bisa berharap bahwa pendidikan kita mampu mencetak lulusan yang memiliki integritas, komitmen, dan jujur ? .

Menurut Bauman, kejahatan kemanusiaan jangan-jangan bukanlah efek samping dari proyek luhur modernisme, melainkan justru produk langsung dan inheren dari modernisme itu sendiri (Ritzer, 2004: 573). Sistem pendidikan harusnya menjadi benteng terakhir proyek kemanusian yang bukan hanya digagas, namun juga, dipraktekkan sebagai usaha perlawanan terhadap zaman yang semakin kehilangan ruang kognitif dan moralitasnya. Sadarkah engkau para mahasiswa di seluruh Indonesia akan panggilan tugas mulia ini ? Semoga hatimu tidak bebal.


back to top
UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen Sosiologi Unesa, kandidat doktor S...

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...