Error
  • JUser: :_load: Unable to load user with ID: 1067
Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Memori kekerasan generasi emas pendidikan

Memori kekerasan generasi emas pendidikan

Oleh: Abrorinnisail Masruroh



Kritik Pendidikan: Suatu Pengantar

Institusi pendidikan (sekolah hingga kampus) diamanahkan oleh UUD sebagai alat pencerdasan kehidupan bangsa. Sekolah berdasarkan undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 2004 memiliki tugas mulia sebagai pembentuk manusia Indonesia paripurna (seutuhnya/sempurna). Bagi sebagian kalangan intelektual kritis, pendidikan menjadi alat pembebasan. Bebas dari ancaman. Bebas dari penindasan. Bebas dari transaksional. Bebas dari rasa takut. Bebas dari kerangkeng besi birokrasi. Termasuk, bebas dari segala praktik kekerasan.
   
Berdasarkan analisis Marxian, pendidikan memiliki dua kecenderungan yang sangat mengkhawatirkan dan mengecewakan. Pertama, pendidikan berpotensi sebagai akumulasi kapital. Kekuatan kapitalisme menjadikan para peserta didik sekaligus gurunya sebagai mesin pencetak uang. Apapun yang menguntungkan secara ekonomi harus dipelihara, dijaga, dan dikembangbiakkan. Basis struktur (ekonomi) menentukan suprastruktur (kesadaran dan kebudayaan). Pendidikan tidak mampu bergerak otonom tanpa kekuatan ekonomi. Inilah cara pandang Marxisme ortodok. 

Kedua, pendidikan sebagai objek intervensi kekuatan aparatus represif negara. Para siswa dan gurunya selalu dibayang-bayangi oleh tindakan kekerasan berbagai lembaga formal pemerintahan. Maka, satpol PP, hansip, dan aparat keamanan legal memiliki tugas tambahan mengawasi dan memberikan sanksi bagi para siswa dan guru yang bolos sekolah, tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, hingga ke urusan privasi seperti rasa mencintai dan dicintai. Inilah cara pandang new marxisme (marxisme gaya baru). 

Apa yang luput dari pandangan di atas ? Pelaku kekerasannya. Kekerasan yang telah bertubi-tubi dibudayakan ke dalam sekolah telah membentuk karakter kekerasan dalam pribadi para guru dan siswa. Apakah budaya kekerasan yang mereka lakukan ini langsung datang tiba-tiba ? Tentu tidak. Memori menjadi media penting bagi proses pembentuknya. Ulasan menarik dari karya Budiawan, PhD, dosen di kajian budaya dan media (KBM) UGM patut kita renungkan. Menurutnya, memori kolektif dapat membentuk tindakan seseorang. Mengadopsi pemikiran Pierre Nora (salah satu murid Emile Durkheim), memori bukanlah sekedar ingatan pengalaman masa lalu, melainkan proses menempel dan melekat ke dalam tubuh (embedded and embodied) yang bersumber dari suatu perasaan dan kesadaran kolektif yang menyejarah. Sejarah kekerasan lembaga formal negara yang sering dilakukan di sekolah pada akhirnya akan menentukan pilihan rasional tindakan seseorang dalam menghadapi persoalan sosial. Sederhananya, kekerasan yang terlembagakan melalui aparatus formal pemerintah akan membuat guru di sekolah memiliki potensi melakukan hal yang sama pada anak didiknya. Imbasnya, para siswanya pun akan melakukan hal yang sama dengan sesamanya. Terjadilah lingkaran setan kekerasan. Inilah efek buruk sejarah kekerasan yang diam-diam terlembagakan hingga ke tingkat pendidikan.

Lantas, masihkah kita berharap akan datangnya generasi emas pendidikan di negeri ini ? Atau mungkin, masihkah kita berharap adanya perubahan di masa depan dari adanya bonus-bonus demografi (ledakan anak-anak muda produktif) di negeri ini ? Tentu saja, kita harus terus bermimpi dan berharap banyak terhadap perubahan yang lebih baik kepada pendidikan, terhadap para siswa sekolah dasar yang akan melanjutkan estafet perjuangan generasi sekarang. Asalkan, sistem pendidikan dan praktik budaya dalam pendidikan kita tidak kebal kritik dari banyak kalangan. Termasuk, kritik pedas dari tulisan yang disajikan oleh Orin (begitu tim litbang KoPi menyapanya) dalam menu Antitesis KoPi hari ini. Selamat menikmati sobat.


Catatan Hitam Pendidikan    

 Catatan hitam kembali menghiasi dunia pendidikan dasar indonesia. Setelah kasus kekerasan seksual di Jakarta Internasional School (JIS), publik kembali dikejutkan oleh sebuah video kekerasan yang dilakukan oleh murid sekolah dasar (SD). Dalam rekaman video Youtube, tampak seorang siswi berjilbab berpakaian seragam sekolah dihujani pukulan dan tendangan oleh beberapa temannya di pojok ruangan kelas. Gadis kecil itu hanya bisa terdiam dan menangis, tak mampu membalas.
Kekerasan yang berlangsung di Sekolah Dasar Trisula Bukit Tinggi ini semakin menambah daftar panjang catatan hitam dunia pendidikan dasar indonesia saat ini. Wajah pendidikan yang kian menjadi bengis. Pendidikan yang (masih) dipercaya sebagai upaya memanusiakan manusia justru kini mendehumanisasikannya. Diakui atau tidak, peristiwa ini merupakan tamparan bagi pemerintah dan dunia pendidikan. Sekaligus, menyadarkan bahwa kondisi pendidikan saat ini telah masuk kategori “darurat kekerasan anak.”

Sebelumnya, kekerasan di sekolah dilakukan oleh guru kepada siswa. Sekarang, justru dilakukan dan terjadi antar sesama siswa. Ini menunjukkan ada yang salah dalam pendidikan karakter anak-anak kita.

Melihat fenomena kekerasan anak yang kian menggunung, tentunya kita tidak bisa melihatnya hanya semata-mata kesalahan sepihak dari pihak tertentu. Baik itu pendidik, orang tua, peserta didik, metode pendidikan, sistem pendidikan, atau lingkungannya saja. Karena pada dasarnya, semuanya itu berada dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang diterapkan dalam proses pembelajaran. Dalam melihat fenomena ini, beberapa analisa bisa diajukan.

Pertama, kekerasan dalam pendidikan muncul karena pelanggaran yang disertai hukuman. Ada pihak yang melanggar dan pihak yang memberi sanksi. Ada dua kemungkinan dalam kasus ini. Anak perempuan tadi dianiaya oleh teman-temannya karena memang dia bersalah, dan teman-temannya merasa harus menghukumnya. Atau, dia menjadi satu-satunya saksi dari kesalahan yang dilakukan oleh teman-temannya (seperti mencontek dll), sehingga teman-temannya merasa dia harus dihukum karena berani “berbeda” atau terlalu idealis. Namun, apapun kemungkinannya, kekerasan tidak seharusnya menjadi solusi.

Kedua, kekerasan dalam pendidikan bisa diakibatkan oleh buruknya sistem dan kebijakan pendidikan yang berlaku. Atau, dalam bahasa yang lebih sarkastik, negara tidak punya konsep dan arah sistem pendidikan yang jelas. Mau dibawa kemana pendidikan Indonesia?

Tak dipungkiri, sampai detik ini pendidikan kita masih menonjolkan kemampuan kognitif dan cenderung mengabaikan pendidikan afektif. Sekolah hanya bertanggungjawab mengajarkan keilmuan dan pengetahuan umum. Pendidikan agama dan budi pekerti hanya menjadi pelajaran teoritik. Anak didik diberi materi pelajaran hanya untuk sekedar ‘tahu’ dan ‘mengenal’, tanpa memahami apa yang mereka pelajari, apalagi, menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Bimbingan dan konseling yang dibentuk oleh sekolah hanya bertugas menyelesaikan kasus kekerasan yang terjadi, tetapi tidak memberikan aspek preventif kepada pendidik ataupun peserta didik, seperti menanamkan nilai-nilai humanisme dalam proses belajar mengajar. Sehingga, tidak heran jika proses humanisasi dalam pendidikan semakin tidak nampak.

Alangkah baiknya jika kita mau menengok pada sistem pendidikan yang diterapkan di Finlandia dan Jepang. Dimana kedua negara ini sangat konsisten dalam menyeimbangkan aspek kognitif dan pendidikan karakter. Mereka sangat menyadari bahwa keduanya sangat penting dalam proses mencetak generasi muda yang cerdas baik dalam ilmu pengetahuan, sikap dan perilaku yang humanis. Sejak dini, anak-anak diajarkan untuk berkasih sayang, bersikap adil dan bertanggungjawab terhadap diri mereka, manusia dan lingkungan sekitar mereka.


Ketiga, kekerasan dalam pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan tayangan media massa yang memang belakangan ini kian vulgar dalam menampilkan aksi-aksi kekerasan. Sebagian besar program televisi justru lebih menonjolkan karakter buruk daripada karakter baik. Banyaknya sinetron dan infotainment adalah salah satu contoh betapa misi edukasi justru semakin terpinggirkan. Media massa saat ini memang dikelola dengan kecanggihan teknologi, Namun tanpa kecerdasan dan kearifan. Jika ini terus dibiarkan, maka hanya tinggal menunggu waktu ketika teknologi canggih tersebut justru akan melemahkan atau merusak karakter bangsa. Menurut hasil penelitian American Psychological Asociation (APA) pada tahun 1995, mengungkapkan bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berperilaku baik. Sebaliknya, tayangan yang kurang bermutu akan memengaruhi seseorang untuk berperilaku buruk. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia anak-anak (Zubaedi, 2011: 174).

Generasi Golden Age

Masa kanak-kanak sering disebut-sebut sebagai “golden age”, tak lain karena pada masa inilah masa pembentukan yang paling baik (Soyomukti, 2008: 23). Jika bisa berjalan dengan nilai-nilai yang baik, maka, kelak juga akan menghasilkan manusia yang berkualitas. Sekarang, tinggal bagaimana orang dewasa dalam kehidupan si anak dengan peran yang berbeda mampu melakukan upaya perlindungan anak tanpa harus merampas hak-hak mereka termasuk hak untuk memperoleh pendidikan.  Karena berbicara tentang anak adalah berbicara tentang orang dewasa, apapun peran mereka dalam masyarakat. Orang dewasa saat ini adalah anak pada masa lalu yang diperlakukan oleh orang dewasa terhadap mereka. Itulah siklus kehidupan.

Kini, sudah seharusnya kita berpikir bagaimana melindungi anak-anak indonesia dengan metode dan strategi yang aman dalam artian menjamin tumbuh kembang anak, baik secara  fisik maupun mental. Sudah saatnya orang dewasa mengubah cara pandang mereka terhadap sosok anak. Apapun peran mereka dalam masyarakat, kultur superioritas terhadap anak sudah selayaknya diminimalisir. Anak harus dijadikan sebagai pusat pertimbangan utama dalam memutuskan sesuatu dalam segala hal.

Masih banyak orang yang berharap pada pendidikan. Pendidikan diharapkan akan mampu menyelesaikan persoalan meskipun pada kenyataannya justru memperumit persoalan (Prasetyo, 2006: 157. Tentu, kita tidak pernah berharap bahwa ideologi pendidikan yang ada selama ini hanyalah diabdikan untuk pelanggengan sistem penindasan yang terlembagakan oleh negara.

Kita tidak ingin curiga berlebihan bahwa lembaga pendidikan hanya menciptakan peserta didik yang menjadi penggerak mesin penindasan. Karena itu, kata bijak Neil Postman diharapkan dapat menjadi obat penawar catatan hitam pendidikan kita:“anak-anak masuk sekolah sebagai tanda tanya, keluar sekolah sebagai tanda titik”.

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...