Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Membongkar Rezim Oliklepto-Represif di Madura

Membongkar Rezim Oliklepto-Represif di Madura

Siapa yang tidak mengenal kebesaran dan kehebatan (Alm.) Prof. Dr. Riswanda Himawan ?. Di dunia intelektual Indonesia, khususnya pengkaji ilmu sosial dan politik, ide-ide kritisnya terhadap politik otoriter orde baru (Orba) kerap menjadi salah satu rujukan utama. Intelektual yang dilahirkan di Bangkalan-Madura ini tidak pernah gentar menghujat habis rezim otoriterian dan oligarkhi yang notabene dianggap biang kerok macetnya demokrasi di Indonesia sekitar 32 tahun lamanya.

Kini, pasca gerakan reformasi yang menghasilkan praktik demokratisasi hingga ke aras lokal, tidak lantas membuat rezim oligarkhi bubar dari tanah air ini. Justru, rezim oligarkhi itu menyeruak hadir di tengah masyarakat Madura, khususnya di Bangkalan dan sekitarnya. Padahal, dalam sejarah di sana peran strategis tokoh agama sekaliber KH. Syaikhona Cholil (guru pendiri NU) sangat alergi dengan praktik kezaliman kekuasaan politik yang demikian.
    
Namun, salah satu garis keturunannya, mantan Bupati di sana berinisial FAI justru memiliki kepentingan yang berbeda dengan leluhurnya. Di tangannya, kekuatan kharismatik KH. Syaikona itu digunakan untuk mendapatkan suara massa dalam pilkada di Bangkalan Madura. Hasilnya terbilang luar biasa. FAI berhasil mampu merebut pucuk pimpinan di Bangkalan hingga dua periode berturut-turut.  

Pasca habisnya era kepemimpinannya, kursi kekuasaannya “diwariskan” pada anaknya yang masih muda. Saking mudanya, sang putra mahkota dinobatkan sebagai bupati termuda di Indonesia. Dan, pernah diundang ke acara Mata Najwa untuk berbicara tentang ide-ide politiknya. Meski dalam acara itu, dia terkesan terbata-bata dalam berbicara. Entak karena gugup, panik, tidak sadar kamera atau memang belum memiliki pengalaman tampil di diskusi publik, saya sendiri pun tidak tahu pasti.Pada konteks ini, saya tidak berkapasitas mengkaji “kegagapan” putra mahkota FAI.

Bukan karena tidak paham. Hanya agar topik pembahasan tidak meluber kemana-mana. Lebih dari itu. Ada kajian menarik yang diteliti secara metodologis yang ketat oleh Abdur Rozaki yang pada hari ini (10 Juni 2015) telah menyelesaikan ujian terbuka tesis doktoralnya di UIN Kalijaga, Yogyakarta. Temanya menarik untuk disimak. Karena dari pengalamannya mengawal dan mentasbihkan spirit demokrasi di berbagai daerah bersama IRE Yogyakarta, membuat dirinya prihatin dengan kondisi politik di tanah kelahirannya, Bangkalan-Madura. Tentu saja, ini bukanlah perkara asal etnisitasnya.

Kita harus membacanya dalam kerangka kondisi defisit nilai kemanusiaan dalam sistem politik di Madura selama ini. Sehingga, tidak terjadi interkoneksi pada sistem politik demokratis di tingkat nasional yang menjadi kesepakatan imajinatif kolektif bangsa Indonesia ke depan. Tesis doktoralnya berjudul “Islam, Demokrasi, dan Orang Kuat Lokal: Studi Kemunculan Oligarki Politik dan Perlawanan Sosial di Bangkalan-Madura”. Salah satu dasar tesisnya adalah rezim oligarki di sana telah berhasil secara terstruktur, sistematis, dan massif dalam mematikan partisipasi masyarakat lokal membangun kemajuan ekonomi politik daerahnya.

Bahkan, keberadaannya ampuh menebarkan virus korupsi dan praktik represif orang-orang kuat Madura Barat (Blatèr) yang begitu hebatnya di sana. Dia menganalogikan praktik politik rezim oligarki ini layaknya virus HIV/AIDS yang membunuh perlahan siapapun yang terjangkitinya. Pada kesimpulan akhirnya dia menyebut kondisi demikian sebagai rezim oligarki kleptokrasi represif (yang saya singkat menjadi “Oliklepto Represif”) di Madura.

FAI (mantan bupati dan ketua DPRD setempat) yang dianggap tokoh utama rezim Oliklepto represif di Madura telah menjadi sandera KPK yang proses persidangannya tengah berlangsung di Jakarta. Serta, tengah menjadi salah satu isu hangat media massa nasional. Meski terkesan lama di dalam proses persidangannya, publik masih setia menanti hasil akhirnya. Terutama rakyat Madura. Saat tertangkapnya FAI, warung nasi bebek binjai yang terkenal di Bangkalan menggratiskan setiap pengunjungnya makan sepuasnya.
   
Barangkali, putusan akhir hukuman yang setimpal pada FAI akan membuat warung-warung lainnya di sana turut menggratiskan menu makanannya. Setidaknya sehari saja. Walau ini bagian dari temuan data menarik Rozaki, masalahnya bukan pada makanan gratisnya. Tapi dibaliknya ada simbol harapan adanya masa depan yang lebih baik bagi pembangunan ekonomi-politik di Bangkalan pada khususnya, dan Madura pada umumnya. Kita tunggu saja !.

*NB: Tulisan ini direfleksikan dari Tesis Doktoral Abdur Rozaki pada sidang terbukanya.   
 
 
          

back to top
UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen Sosiologi Unesa, kandidat doktor S...

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...