Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Memberi suara pada RUU Kebudayaan

Memberi suara pada RUU Kebudayaan

Oleh: Ardhie Raditya


Membaca teks RUU (Rancangan Undang-Undang) Kebudayaan mengingatkan Saya pada dua tonggak sejarah penting puluhan tahun silam. Yakni, sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia dan gerakan pencerahan (Renaissance) di Eropa. Gerak sejarah pertama berawal dari kesadaran rakyat Indonesia yang dipelopori oleh segelintir kelas aristokrat (priyayi) dan kaum intelektual pribumi untuk membebaskan bangsa ini dari gurita praktik kolonialisme asing yang zalim, korup, dan represif. Dari sanalah, kita lantas mengenal sejarah perjuangan bangsa yang dipekikkan oleh Ki Hadjar Dewantoro (tokoh pendidikan nasional), Soekarno-Hatta (Presiden-Wapres RI kesatu), KH. Ahmad Dahlan (tokoh sentral Muhammadiyah), KH. Hasyim Assyari (tokoh sentral NU), Kartini, Bung Tomo, Syahrir, Tan Malaka, dan lainnya.

Jejak langkah sejarah kedua merupakan gerakan anti dogmatisme abad pertengahan, kritik terhadap abad kegelapan. Sebagian besar kalangan, menganggap bahwa gerakan di Eropa ini tergolong gerakan kebudayaan yang berpusat di Florence-Italia (Sebuah kota yang menjadi cikal bakal pusat seni abad pencerahan). Sejarah pencerahan ini dimulai pada abad ke-12. Di abad ke-12 ini, kebangkitan kembali (inovatio) dimulai dari gerakan estetik melalui praktik seni tinggi (seni luhur), seperti karya sastra, pembuatan patung, lukisan, dan barang-barang kerajinan bernilai mewah-mahal.

Tidak hanya itu. Menitikberatkan juga pada proses kebangkitan filsafat yunani dan ilmu pengetahuan baru (suatu ilmu pengetahuan yang hendak menempatkan kembali posisi manusia sebagai pusat kajiannya).  Pada masa itu, filsafat Aristoteles dan filsafat alam mulai dipelajari segelintir intelektual Eropa melalui pendalaman teks berbahasa arab yang ditulis oleh Ibnu Sina (980-1037) dan Ibnu Rusyid (1200-1235). Ini adalah dampak perang salib yang menyebabkan dokumen filsafat alam dan yunani kuno di barat banyak kehilangan jejaknya. Perpustakaan Alexandria milik Aristoteles dan Alexander Agung (raja sekaligus muridnya) yang memiliki kurang lebih 4000 buku tentang pemikiran orang-orang terdahulu luluh lantak karena dihancurkan oleh prajurit perang Julius Caesar dari Roma. Itulah hasil penelusuran Fernando Baez dalam bukunya “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” (Marjin Kiri, 2013).

Pada masa awal gerakan pencerahan di Eropa, filsafat Aristoteles ini justru “dilarang” masuk ke berbagai Universitas di sana. Filsafatnya serta filsafat alam para filsuf Yunani kuno digolongkan sebagai 219 “kesalahan yang dikutuk”. Mengapa filsafat Aristotes dilarang ?. Karena, terkait dengan persoalan akar filsafatnya. Baginya (termasuk juga filsafat alam pada umumnya) bahwa penggerak absolut utama alam semesta telah digantikan peran manusia melalui hukum akal dan ilmu pengetahuannya. Filsafatnya tidak percaya tentang kebakaan tubuh manusia pasca kematiannya. Suatu cara pandang yang membuat gerah pihak gereja. Ini yang membuat Universitas Paris dan Oxford lebih senang mempelajari filsafat Skolastik yang salah satu tokohnya adalah St. Thomas Aguinas (1226-1274). Begitulah hasil penelitian mendalam Alison Brown di dalam bukunya “The Renaissance” (Pearson Education Limited, 1999). (Sayang, versi Indonesianya baru diterbitkan sepuluh tahun kemudian: lihat terbitan Kreasi Wacana, 2009).

Indeksikalitas Unsur Kebudayaan
   
RUU Kebudayaan yang sedang bermetamorfosa menjadi UU Kebudayaan tampaknya berpangkal dari kedua peristiwa berharga di atas. Karena itu, di dalam teks RUU kebudayaan juga memasukkan sejarah (merekat pada sistem pengetahuan) dan kesenian bagian penting dari unsur-unsur kebudayaan (Bab III tentang Unsur-Unsur Kebudayaaan, pasal 9-21). Dalam uraian Bab III ini menunjukkan bahwa ada lima (5) unsur-unsur kebudayaan. Yakni, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, adat-istiadat, dan cagar budaya. Kelimanya dijelaskan sangat singkat dan padat secara definitif di Bab I Ketentuan umum pasal 1. Saya akan memberikan skema padat melalui pendekatan indeksikal Sanders Pierce untuk mengantarkan pembaca agar mengerti makna kata kunci yang tersirat dari masing-masing definisi unsur kebudayaan yang dimaksud. Tentang cara kerja analisis indeksikal Pierce tersebut, silahkan mencari buku Arthur Asa Berger “Sign in Contemporery Culture” (Shiffield Pub. Co, 1998). (Sayangnya, versi Indonesianya baru terbit dua tahun kemudian dan diterbitkan oleh Tiara Wacana, 2000).


Tabel 1. Indeksikalitas Unsur-Unsur Kebudayaan (dalam RUU Kebudayaan)

Posisi Komunitas “Yang Lain”
   
Berdasarkan indeksikalitas unsur-unsur kebudayaan di atas tampak bahwa di dalam RUU Kebudayaan cenderung memposisikan sudut pandang distorsif, perspektif yang selama ini memicu perdebatan sengit abadi di dalam ilmu humaniora, khususnya studi kebudayaan. Ini bukan hal yang baru dalam dunia akademik. Hampir semua ilmu pengetahuan berada di dalam proses dialektis. Untuk menunjukkannya, ijinkan Saya ingin menyebutkan salah satu karya monumental Chris Jenks “Culture” terbitan Routledge, 1993. (Sayangnya, terjemahan versi Indonesia baru saja diterbitkan Pustaka Pelajar, 2013). Menurut Jenks, paling tidak ada dua macam mazhab pendekatan (yang bertujuan mempertajam) memahami kebudayaan di dalam masyarakat. 

Pertama, Mazhab Amerika yang sering merujuk ke pemikiran Boaz (orang ini dikenal sebagai “bapak” Antropologi Amerika), Morgan, Kroeber, termasuk, Kluckholn. Mazhab ini mengasumsikan bahwa kebudayaan bersifat luhur yang dapat mempengaruhi struktur sosial masyarakat suatu bangsa. Kebudayaan merupakan titik utama dalam rangka menggerakkan struktur sosial. Kebudayaan sebagai cara hidup. Cara pemikiran ini bersifat evolusionisme, sehingga menganggap bahwa gerak kebudayaan bersifat linier hingga berujung pada derajat keharmonisan dan kebahagiaan hidup. Ilmu pengetahuan dan pendidikan merupakan modal budaya yang sangat penting di dalam proses mengawal gerak kebudayaan tersebut menuju puncak kesempurnaan.

Kedua, mazhab Inggris yang dasar pemikirannya biasanya merujuk kepada Redcliffe-Brown dan Malinowski mumutarbalikkan cara pandang Boaz dan kawan-kawannya. Mereka menyebutnya sebagai revolusi Boaz. Yakni, struktur sosial memiliki pengaruh yang tidak bisa diabaikan dalam proses kebudayaan. Kebudayaan muncul karena adanya fungsi-fungsi suatu struktur sosial yang harus dipenuh setiap orang sebagai bagian dari anggota kelompoknya. Cara pikir ini diadopsi dan dikembangkannya dari corak pemikiran Sosiolog Perancis, Emile Durkheim tentang Solidaritas Sosial (mekanis dan organis) serta ide-ide mengenai sakral dan profan.

Tapi, kedua mazhab di atas masih sangat memprioritaskan fungsi-fungsi sinkronisitas kebudayaan yang memuja sifat interrelasi (saling keterhubungan) sekaligus interdependensi (saling ketergantungan) diantara bagian-bagiannya. Apapun yang tidak fungsional, maka dia dapat dianggap mengganggu standar keutuhan sosial. Karena itulah, diperlukan peran agen sosialisasi agar meminimalisir adanya budaya patologis di dalam sebuah sistem kebudayaan yang lebih besar (sistem kebudayaan nasional). Maka, dalam teks RUU Kebudayaan itu juga dilengkapi agen ideal kebudayaan. Yakni, Bab I di dalam pasal 1 nomor 14-19 menyebutkan komunitas etnik, komunitas budaya, Pemerintah (pusat dan daerah) dan perseorangan yang tanggung jawabnya diperjelas lagi pada pasal 2, pasal 3, Bab II (hak dan kewajiban), Bab IV (Lembaga adat), kemudian Bab V (nilai budaya), Bab VIII (pendanaan), Bab X (komunikasi antar budaya), Bab XI (penghargaan), dan Bab XII (peran serta masyarakat).

Persoalannya ketika membaca Bab VII tentang Industri Budaya yang secara eksplisit mengakui adanya dampak globalisasi dan industrialisasi yang berkonotasi negatif. Sehingga, diperlukan tugas proteksi dari pemerintah. Pada konteks ini, pemerintah memerlukan suatu bantuan dari komunitas etnik, komunitas budaya, pemerintah daerah, perseorangan, dan masyarakat pada umumnya agar keragaman kebudayaan bangsa Indonesia tidak mengalami degradasi dan nihilisme. Kira-kira begitu orientasinya. Apa masalahnya ? Ijinkan saya untuk menggunakan analisis Paradigmatik Levis Strauss untuk menemukan celah yang berharga. Minimal, bagian kecil penelitian tekstual sederhana melalui analisis kajian budaya-cultural studies untuk mengungkap komunitas “yang lain” dan belum dikuak secara substil   (analisis Strauss secara aplikatif dapat dipelajari di buku Heddy Shri Ahimsa-Putra “Strukturalisme Levis Strauss: Mitos dan Karya Sastra” terbitan kepel press, 2006).      

Tabel 2. Agen Ideal Kebudayaan Berdasarkan RUU Kebudayaan dan Perspektif Kajian Budaya


Sumber: RUU Kebudayaan dan Sardar-Loon “Introducing Cultural Studies”, (Icon Books, 2010)

Apabila memperbincangkan industri budaya dan kaitannya dengan gerakan budaya terhadap efek buruk globalisasi, maka sejatinya kaca-mata kajian budaya (Cultural Studies) justru lebih mendalam, “massif, terstruktur, dan sistematis” guna melakukan upaya proteksi dan resistensi. Karena, berbagai komunitas yang ditampilkan oleh Kajian Budaya itu adalah mereka yang telah menjadi korban utama dominasi kultur industrialisasi dan globalisasi. Jika mereka mendapatkan perhatian untuk dilibatkan, paling tidak diberi ruang mengekpresikan dirinya dalam praktik dan penelitian kebudayaan, maka saya yakin bahwa RUU Kebudayaan yang sedang digagas dan disosialisasikan dirjen Kebudayaan akan mendapatkan sambutan yang meriah dari banyak kalangan. Alasannya, bukan karena mereka ingin mendapatkan tetesan proyek pendanaan terhadap strategi kebudayaan, tetapi lebih dari itu: menyuarakan ketidakadilan dan diskriminasi kultur dominan yang secara samar-samar telah menyebar ke berbagai aspek kehidupan di negeri ini. Bagaimana menurut anda pak Dirjen Kebudayaan ?
 





back to top
UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen Sosiologi Unesa, kandidat doktor S...

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...