Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Kultur beragama kaum nelayan

Hidayah.or.id Hidayah.or.id

Oleh: Nike Kusumawanti


Agama memiliki banyak wajah (multifaces). Dalam diskursus Sosiologi pengetahuan kontemporer, Agama tidak hanya dipandang dari persoalan teologi murni. Agama berkaitan juga dengan persoalan historis kultural.

Menurut Komarudin Hidayat (dalam Maliki, 2006: xxiii) mengungkapkan bahwa pemahaman, artikulasi, dan perilaku religiusitas manusia tidak pernah bersifat seragam. Oleh karena itu, fenomena religiusitas juga perlu didekati, diteliti, dan dipahami melalui pendekatan yang bersifat Sosiologis.    

Ada beberapa pendekatan Sosiologis untuk membaca fenomena agama. Salah satunya dari perspektif Sosiologi Pengetahuan. Sosiologi pengetahuan Berger dan Luckmann (1991) mencoba menjelaskan fenomena agama secara berbeda dengan melihat realitas historis dan bangunan spesifik sosiokultural.

Berger dan Luckmann menganalisis sesuatu yang dianggap pengetahuan masyarakat. Sejauh mana pengetahuan manusia itu dikembangkan, dialihkan, dan dipelihara dalam situasi sosial, maka tugas sosiologi pengetahuan berusaha memahami bagaimana proses-proses itu dilakukan, sehingga pada akhirnya terbentuklah “kenyataan” yang dianggap barang jadi oleh masyarakat (Berger dan Luckmann, 1991 : 4). Riset ini hendak melihat fenomena keagamaan masyarakat nelayan di Brondong dengan menggunakan pendekatan sosiologi pengetahuan atau konstruksi sosial Peter.L.Berger dan Luckmann.

Kelurahan Brondong merupakan salah satu kelurahan di pesisir kawasan pantura dan termasuk bagian wilayah Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Propinsi Jawa Timur. Kelurahan Brondong sesungguhnya merupakan tipologi desa nelayan, namun berkarakteristik permukiman perkotaan karena dilengkapi dengan sejumlah pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan, seperti Pelabuhan Perikanan Nusantara III, Pabrik Es, Bank Umum dan Bank Daerah, Perum Pegadaian, pasar, supermarket, dan showroom motor. Geografis seperti ini memungkinkan gaya hidup masyarakatnya mempunyai ciri khas masyarakat perkotaan yang mempunyai etos kerja tinggi, konsumtif, pragmatis, dan sekuler. 

Secara sosial-keagamaan, basis komunitas keagamaan masyarakat nelayan Brondong adalah Muhammadiyah, sedangkan basis kultur Nahdatul Ulama (NU) merupakan golongan minoritas. Namun, bukan berarti masyarakatnya meninggalkan sejumlah tradisi peninggalan nenek moyangnya. Hal Ini dapat dibuktikan dengan masih banyak dijumpai sejumlah upacara petik laut dan tutup playang beserta seni tayuban, tradisi slametan lingkaran hidup (kelahiran, pernikahan dan kematian), slametan kalenderikal, slametan malam jum’at wage dan tradisi manganan yang ditujukan kepada leluhur desa Brondong yaitu Mbah Buyut Sentono.

Tiga Budaya Nelayan

Realitas objektif masyarakat nelayan Brondong meliputi tiga macam budaya. Yaitu,  budaya Jawa Pesisiran, budaya Islam, serta budaya nelayan. Ketiganya akan coba dijelaskan secara singkat dan padat dalam tafsir dialektika historis masyarakat nelayan.

Pada masa Kerajaan Mataram (abad 17 M), daerah Jawa dibedakan ke dalam tiga kategori. Yaitu, negarigung, mancanegari, dan pesisiran. Negarigung adalah wilayah pusat pemerintahan kerajaan Mataram yaitu, kota Yogyakarta dan Solo. Disebut Negarigung ketika berfungsi sebagai kawasan pemerintahan. Dan, disebut Kota Negari ketika berfungsi sebagai ibukota kerajaan. Perbedaan keduanya adalah mengenai istilah kepemimpinan.

Yogyakarta dipimpin oleh seorang sultan, sedangkan di Solo dipimpin oleh seorang sunan. Disebut sultan dan sunan karena keduanya lekat dengan peradaban Islam. Menurut Robert Redfield (1982) peradaban yang dikembangkan di pusat wilayah kerajaan Mataram itu berkategori Peradaban Besar (Tradisi Besar) sebagai ciri dasar dari kebudayaan kraton. Daerah-daerah yang ada di sekitar atau di luar pusat kerajaan disebut wilayah mancanegari.

Dalam arti politik, daerah mancanegari merupakan daerah-daerah yang dipimpin oleh residen (bupati) yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Mataram. Sedangkan, dalam arti kebudayaan, memiliki kemiripan dengan kebudayaan Jawa Negarigung tetapi dari segi kualitas peradabannya termasuk Tradisi Kecil sehingga tidak sehalus peradaban kraton (Lombard, 1996).

Terdapat perbedaan antara karater masyarakat Jawa Mataraman dan Jawa Pesisiran. Etnis Jawa mataraman yang dimaksud adalah Jawa yang berada di sekitar pusat kerajaan, seperti, Yogyakarta dan Surakarta. Sedangkan, Jawa pesisiran yang dimaksud adalah Jawa yang berada jauh dari pusat kerajaan bahkan mendekati pesisir pantai utara Jawa. Orang Jawa yang bertempat tinggal di Yogyakarta dan Surakarta cenderung bersifat normatif dalam memahami sistem nilai budaya Jawa. Orang Jawa konon dianggap orang nglungguhi (setia dan senang hati melaksanakan) kejawaannya. Sehubungan dengan itu terdapat anggapan di dalam masyarakat Jawa, bahwa dalam aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek-aspek spiritual, mental, dan jasmaniah, dibutuhkan semacam pemurnian. Jika ada tingkah laku, tindakan, sikap, dan kata-kata kasar dari seseorang, maka yang bersangkutan akan dianggap durung (belum) Jawa, belum sepenuhnya Jawa (dalam arti, belum mampu untuk bertindak sebagaimana layaknya orang Jawa). 

Orang Jawa adalah makhluk yang mistis, yang menggunakan cara-cara yang mistis untuk bersatu dengan alam. Oleh karena itu, dalam kesehariannya orang Jawa cenderung membenci pertentangan dan menghargai konsensus (harmoni). Di sisi lain, orang Jawa yang bertempat tinggal jauh dari pusat kerajaan (khususnya di daerah pesisir utara Pulau Jawa, seperti Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo) justru pemahamannya tentang sistem nilai budaya Jawa tampak pada kulit luar-nya saja. Ini disebebkan mobilitas penduduk yang tinggi dan perkawinan antaretnis. Orang-orang yang tinggal di pesisir utara Pulau Jawa sering dianggap cenderung kasar dalam berperilaku dan bertutur kata.

Karakter terbuka, lugas, dan egaliter dalam masyarakat pesisir disebabkan oleh akar sosial yang beragam. Pertama, tata ruang fisik (lingkungan alam pantai) yang terbuka dan tata ruang sosial dalam melakukan relasi perdagangan mempengaruhi karakter masyarakat pesisir yang terbuka. Kedua, sifat lugas berasal dari pemahaman masyarakat pesisir terhadap makna kejujuran dan persamaan hak dan derajat manusia di hadapan Allah dalam ajaran agama Islam (Ricklefs, 1989). Sikap ini diekspresikan dalam kecenderungan umum, yaitu, berbicara langsung kepada pokok persoalan dengan menggunakan bahasa ngoko ataupun krama madya. Dengan kata lain, di dalam berinteraksi antar sesamanya, umumnya masyarakat Jawa Pesisir lebih menekankan pada substansinya, bukanlah pada cara mengekspresikannya seperti yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Pedalaman (Jogja dan Solo)(Vooren, 1982).

Ketiga, sikap egaliter masyarakat pesisir dipahami dari pemaknaan mereka terhadap ajaran tasawuf, yaitu “semua manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Tuhan, kecuali tingkat ketaqwaannya”. Sehingga, status tokoh keagamaan, seperti, wali, ulama, atau kyai menempati level yang tinggi dalam pandangan masyarakat pesisir dibandingkan dengan status ekonomi ataupun status sosial pada umumnya.

Tradisi Ritual Manganan

Pelabuhan Sedayulawas yang terletak di dekat Brondong, mempunyai arti penting di pantai utara Jawa sebagai pintu gerbang Kerajaan Kediri menuju negeri di luar pulau Jawa. Pelabuhan ini merupakan andalan pada masa kerajaan Majapahit dan kerajaan Demak Bintoro. Di era Kerajaan Pajang, pelabuhan ini menurun fungsinya sehingga hanya menjadi pelabuhan rakyat hingga kini.
   
Pada tahun 1630, pada saat kedatangan bangsa Eropa di pelabuhan Sedayulawas telah dikenal seorang Syahbandar bernama Ki Gedhe Buyut yang juga dikenal seorang pemimpin masyarakat Brondong. Setelah wafat pada tahun 1639, Ki Gedhe Buyut dimakamkan di tanah Sentono sebelah barat Masjid Sentono dengan panggilan Mbah Buyut Sentono. Setelah Ki Gedhe Buyut wafat, syahbandar Brondong digantikan oleh adiknya sendiri yang bernama Ki Lanang Dangiran atau yang dikenal sebagai Joko Brondong, seorang pangeran dari kerajaan Blambangan.
   
Perkembangan desa Brondong terjadi ketika pelabuhan Sedayulawas yang awalnya menjadi markas marinir, juga dipakai menjadi lintas barang perdagangan yang ramai. Ada jalan kuno menuju pedalaman melalui Brondong-Laren ke selatan menembus pegunungan Kendeng Timur. Ketika Ki Lanang Dangiran menjadi penguasa dan Syahbandar maka ada upaya mengembangkan pelabuhan kecil untuk pendaratan ikan di Brondong. Pelabuhan Ikan Brondong kini menjadi Pelabuhan Nusantara III yang besar seperti di Muncar, Bagan Siapi-api, dan Pekalongan. 
   
Dilihat dari aspek sosial keagamaan, kawasan pantai Brondong sampai Blimbing dan Paciran tunduk pada pengaruh seorang kiai yang bernama Kiai Kendil Wesi yang bermukim di Paciran. Kiai Kendil Wesi adalah seorang ulama yang meneruskan dakwah Sunan Sendang Duwur dan merupakan guru dari Ki Lanang Dangiran atau Joko Brondong.
   
Ki Lanang Dangiran mendapatkan berbagai ilmu agama dan tasawuf dari kiai Kendil Wesi. Di samping itu Ki Lanang mampu mendapatkan kekuatan untuk mengalahkan musuh dan ahli dalam hal pengobatan penyakit. Kedigdayaan Ki Lanang juga dibuktikan dalam olah batin dan raga. Dia juga sering bersemedi di tengah laut pantai Brondong selama berbulan-bulan hingga badannya terendam air laut hingga ditumbuhi lumut dan kerang kecil berwarna putih di seluruh tubuhnya seperti brondong menempel. Menurut legenda setempat, ini dikenal sebagai asal-usul nama desa Brondong. 
   
Di Brondong, upacara manganan (ungkapan rasa syukur pada leluhur) diperuntukkan khusus kepada Mbah Buyut Sentono, nenek moyang desa Brondong yang kemudian disebut sebagai manganan sentono atau sedekah bumi. Pelaksanaan manganan Sentono dilakukan setiap bulan delapan pada hari kamis malam jum’at yang diikuti oleh sebagian besar nelayan, terutama, nelayan juragan di kawasan desa Brondong dan Blimbing. Tujuan dilaksanakan ritual manganan Sentono untuk memperoleh kesehatan dan keselamatan.
   
Hasil penelitian di atas mengungkapkan satu hal penting bahwa di dalam masyarakat modern seperti saat ini persoalan agama dan kultur tradisional warisan para leluhur tak dapat dipisahkan. Sehingga, pelajaran penting yang patut dipetik dari fenomena ini adalah perlunya pengetahuan dan pengamalan universal akan sikap-sikap toleransi dalam praktik beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Titik !

NB: tulisan di atas disarikan dari tesis di pasca sarjana

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...