Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Etnisitas deliberatif orang Madura

www.gudangpusaka.com www.gudangpusaka.com

Oleh: Mahalli H.N


Pada September 2013 lalu, Kafa, seorang teman asal Semarang melontarkan komentar menarik mengenai cover buku yang saya baca, Massa Teror dan Trauma karya Budi Hardiman (2011). Baginya, cover buku bergambar orang memegang celurit (are’) itu mengesankan orang Madura dengan teror kekerasannya. Meskipun, Hardiman tidak sedikit pun mengatakan di dalam bukunya itu bahwa orang Madura adalah pelaku kekerasan. 

Pernyataannya itu telah membuat saya merenung berkali-kali sejak ia sampaikan anggapannya di siang itu. Bukankah tidak nyaman rasanya jika Anda dianggap sebagai bagian dari etnis yang suka melakukan kekerasan, padahal, Anda sendiri tidak pernah melakukan kekerasan ? Dimana posisi diri (self) Anda ketika anggapan itu terlontar ? Apakah Anda merasa salah “memilih” lahir di tengah etnis yang acapkali distereotip buruk watak dan perilakunya ?


Jika memeriksa literatur tentang Madura, maka akan sampai pada beberapa temuan bahwa anggapan tentang etnis Madura yang keras, kasar, dan bengis sudah ada sejak dulu, utamanya sejak masa kolonial. Smith (1997: 57) menulis: ”Orang Madura mendapatkan reputasi sebagai masyarakat yang bengis dan kasar karena karakter yang tersimbolkan dalam kata Carok.” Lebih lanjut, de Jonge (2011: 59) menyatakan: “Tidak banyak kelompok etnis di kepulauan Indonesia yang menyandang stereotip negatif dan samar-samar sebanyak yang melekat pada orang Madura.”

Bukan tugas pokok saya untuk menemukan asal-usul anggapan itu bermula atau menghakimi cara berpikir seperti itu yang keliru. Lebih dari itu, saya ingin meninjau ulang apakah stereotip kekerasan itu benar-benar taken for granted. Setidaknya, usaha yang saya lakukan adalah berusaha merehabilitasi stretotip buruk tentang orang Madura.

Identitas dan identifikasi

Stereotip pada kelompok sosial tertentu tidak pernah bermula dari pengujian apakah anggapan itu benar atau tidak. Cara kerja stereotip hanya butuh praktik diskursif dalam momen interaksi antaretnis untuk dipercaya sebagai kebenaran. Momen interaksi antaretnis oleh Barth (1988) disebut sebagai batasan etnis (ethnic boundaries) karena mengafirmasi keberadaan yang terstruktur dan standar interaksi. Interaksi antaretnis ini mengandaikan adanya pengakuan melalui identitas material dan nilai-nilai. Semisal saya sebagai orang Madura dengan Kafa sebagai orang Jawa dalam dialog di awal tulisan ini.

Identitas material sebagai simbol pengakuan dalam batasan etnis menjadi syarat pengelompokan diri dengan tujuan identifikasi tentang saya, kita, dan mereka. Sofaer (2007: 1) menyatakan bahwa identitas material begitu sangat penting dalam interaksi antaretnis, karena dapat menunjukkan etnis atau kelompok sosial tertentu. Namun harus dipahami bahwa sebenarnya identifikasi ini tidak bekerja sebagai sesuatu yang fixed dan absolut. Hall (1996:16) mengingatkan bahwa identifikasi harus dipahami sebagai proses konstruksi, dan identitas merupakan entitas yang melekat secara temporer melalui praktik diskursif.

Karena identifikasi adalah konstruksi, maka identitas tidak pernah menemui titik akhir atau garis final, ia selalu on going process. Identifikasi orang Madura sebagai etnis yang keras dan bengis tidak serta merta bisa dianggap kebenaran, ia harus dilihat sebagai bentukan praktik diskursif yang menyejarah. Praktik diskursif menurut Hall, jika dikaitkan dengan Barth, bisa membentuk contoh pada etnis Madura dalam relasinya dengan etnis lain yang saling memberikan pembeda yang diakibatkan dari interaksi-interaksi sosial etnis dan dipelihara pada kondisi sosio-historis tertentu (Barth dalam Malesevic, 2004: 205).

Proses identifikasi identitas material dalam batas-batas etnis memuat cara kerja representasi yang juga berarti mensubstitusi makna pada simbol tertentu (Hall, 1997: 16). Proses substitusi objek material pada subjek pengenanya, seperti mengidentikkan orang Madura dengan celurit, disebut oleh Sofaer (2007: 2) dengan transubstantiation.

Ada hal menarik yang saya temukan setelah memperhatikan batasan etnis, yaitu kecenderungan mendahulukan alat daripada manusia. Dengan kata lain, menganggap celurit sebagai simbol kekerasan lebih penting daripada melihat kemanusiaan orang Madura. Patut disayangkan karena pandangan ini semakin dipertegas dengan tindakan beberapa elemen etnis Madura yang menunjukkan keangkuhan dan superioritas di hadapan etnis lain. Interaksi anteretnis di batasannya pun menjadi momen penegasan bahwa orang Madura suka carok.

Padahal, celurit hanyalah benda mati yang tidak berbahaya jika tidak digunakan dengan niat membahayakan orang lain. Meski carok masih ada dalam kebiasaan orang Madura, hal tersebut terjadi tidak sesering yang orang bayangkan di masa lalu. Dewasa ini, carok justru menurun jumlahnya, karena orang Madura sudah bisa memposisikan pelanggaran sosial sebagai bagian dari pengabaian aspek hukum. Mereka sekarang bisa dikatakan lebih suka berdamai dan menyelesaikan persoalan sosial melalui jalan-jalan kultural, seperti komunikasi kekeluargaan dan keagamaan.

Batasan etnis deliberatif

Saya akan mengemukakan beberapa temuan hasil refleksi etnisitas saya selama melakukan penelitian lapangan untuk proses akhir studi (skripsi). Pertama, mengenai posisi saya sebagai bagian dari etnis yang saya teliti. Kedua, hasil refleksi saya terhadap representasi orang Madura di batasan etnis menggiring saya pada pengakuan adanya diskursus ruang publik, sehingga, pandangan saya bergeser ke arah dialog agonistik antaretnis. Tentunya, dengan dialog yang sehat untuk menciptakan struktur interaksi demokratis antaretnis. Ketiga, pandangan politis saya pada batasan etnis adalah strategi politik identitas. Keempat, dewasa ini media menjadi saluran representasi batasan etnis. Media membuat struktur interaksi antaretnis semakin mengemuka dan mudah dicerna.

Yang perlu kita lihat pertama kali adalah kemanusiaan orang Madura. Stereotip kekerasan yang melekat pada orang Madura adalah efek diskursus yang terinstitusi, terkonstruksi, dan mempunyai akar posisi historis. Kita memang tidak akan pernah lagi menemukan diri (self) yang otentik, yang ada adalah diri yang terkait secara diskursif dengan lingkungan sosialnya. Secara posstrukturalisme, wilayah identitas dan diri sosial mengakui keberadaan ambivalensi “diri” ini. Tiap kali kita melangkah pada pertanyaan ontologis, maka yang kita temukan adalah Ada yang berproses, being bukan be.

Jadi, cara pandang yang harus ditanam dalam melihat diri merupakan konstruksi sosial. Saya yang merupakan bagian dari etnis Madura, mengalami proses pembentukan terus menerus. Walaupun, beberapa simbol identitas dan nilai-nilai etnis yang bertahan hanya sebagai bagian yang telah diamini kebertahanannya di batasan etnis. Karenanya, apapun yang mengganggu struktur interaksi antaretnis itu akan luruh dengan sendirinya. Saya sering membayangkan batasan etnis ini juga mengandung diskursus ruang publik politis, dimana keterbukaan interaksi antaretnis diperlukan dalam rangka membangun proses interaksi selanjutnya. Semakin terbuka ruang publik, maka semakin terbuka pula masing-masing anggota etnis yang terlibat di dalamnya.

Patut menjadi sebuah renungan, Indonesia sebagai negara-bangsa yang polietnis memerlukan adanya rekonstruksi untuk menjembatani identitas primordial dan identitas kebangsaan dalam bingkai nasionalisme dan kehidupan masyarakat nusantara. Konflik-konflik antaretnis bisa diantisipasi sedini mungkin jikalau adanya keterbukaan batasan etnis yang tidak saling mengintimidasi, baik melalui stereotip atau singgungan lain yang memicu perpecahan. Setidaknya, demikian hasil renungan akhir tulisan ini.


Daftar Pustaka

Barth, Fredrik. 1988. Kelompok Etnis dan Batasan-Batasannya. Jakarta: UI-Press.

De Jonge, Huub. 2011. Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi. Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura. Yogyakarta: LKiS.

Hall, Stuart. 1996. Who Needs Identity. dalam Stuart Hall dan Paul du Gay (eds.). Questions of Cultural Identity. London: Sage Publication.

Hall, Stuart. 1997. The Work of Representation. dalam Stuart Hall (ed.), Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: Sage Publication.

Malesevic, Sinisa. 2004. The Sociology of Ethnicity. London: Sage Publication.

Smith, Glenn. 1997. Carok Violence in Madura: From Historical Condition to Contemporary Manifestations. Dalam Folk Journal of Danish Ethnographic Society vol. 39 tahun 1997.

Sofaer, Joanna. 2007. Introduction: Materiality and Indentity. dalam Joanna Sofaer (ed.), Material Identities. Hlm. 1-10. Oxford: Blackwell Publishing.

back to top
UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen Sosiologi Unesa, kandidat doktor S...

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...