Menu
Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun Menderita

Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun…

Kupang-KoPi| Rakyat kor...

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan Mahasiswa HI UMY ke Tiongkok

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan…

Bantul-KoPi| Nur Indah ...

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Sehat

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Seh…

Jogja-KoPi| Depresu bis...

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa Untuk Anak Desa Gamplong

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa…

Jogja-KoPi| Unit Kegiat...

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banyak Investasi India di Jatim

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banya…

New Delhi-KoPi| Gubernu...

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kota Magelang

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kot…

Magelang-KoPi| Menyambu...

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi Dilema

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi…

Bantul-KoPi| Kemerdekaa...

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA KOMPENSASI BUKAN CSR

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA …

Kupang-KoPi| Gubernur N...

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gelar Workshop dan Pelatihan Make Up

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gela…

Jogja-KoPi| Mempunyai w...

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasan Bisnis Pada Calon Startup UGM

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasa…

Jogja-KoPi| Mantan CEO ...

Prev Next

Budaya "Sesat" Orang Madura

Foto: Rembug perkara aliran sesat/AR Foto: Rembug perkara aliran sesat/AR

Begitu mudahnya orang Madura menamai ‘orang lain’ beraliran ‘sesat’. Bahkan, difatwakan ‘sesat’ oleh lembaga keagamaan yang menjadi representasi lembaga negara di sana. Suasana damai lantas terganggu bukan dari ‘orang luar’ atau musuh bersama negara, melainkan dari ‘orang dalam’ itu sendiri yang berakar dari nilai budaya Madura.

Sejak beredarnya wacana aliran ‘sesat’ di daerah Pamekasan beberapa waktu lalu (yang telah saya tulis di koran ini), akal sehat dan martabat identitas kemaduraan (termasuk intelektualitas yang melekat dalam diri saya) menjadi terguncang hebat.

Kondisi itu lantas berimbas pada cara pandang ‘orang luar’ memandang orang Madura yang merantau ke kota seberang untuk menimba ilmu, mendidik, dan mencari sesuap nasi, sebagai orang yang gemar melakukan kekerasan simbolik, bahkan bagian dari ‘kesesatan’ budaya secara lebih luas.

Stigma yang selama ini sudah terlanjur menguat bahwa orang Madura suka bercarok, tempramental, dan merampas hak orang lain dengan alasan nilai ketuhanan, lambat laun bukan semakin menyusut dan mereda. Saya sering mendengar guyonan, sindiran, bahkan ledekan hangat kolega dekat seperti ini:

“Apabila tidak tahu mengaji, berdzikir, dan menjadi imam sholat berjemaah, bukanlah orang Madura namanya. Jangankan itu, ayam di Madura saja sudah Islam sejak dalam kandungan, apalagi lahir ke dunia. Tetapi, mangga dan pisang yang hilang dari pohonnya karena diambil orang Madura bisa jadi ‘halal’ hukumnya, karena dianggap semua yang ada di alam semesta ini milik tuhan (Allah)”.

Sungguh terkadang membuat saya terhibur dan tertawa cekikikan bersama mendengarnya, setelah itu saya menjadi berpikir ulang tentang perjuangan hidup orang Madura di tengah-tengah kehadiran orang Jawa, Sunda, Makassar, Sampit, Betawi, dan identitas etnis lainnya. Bukan apa-apa, karena tidak semuanya orang Madura memiliki kapasitas ilmu pengetahuan yang memadai untuk menafsirkannya secara lebih arif dan bijaksana.

Sebagian besar orang Madura pada umumnya masih tenggelam dalam kubangan kemiskinan dan keterbelakangan pendidikan sekaligus politik, terutama mereka yang berasal dari kelas sosial bawah dan tinggal di desa-desa pedalaman.

Bagi mereka yang tergolong ‘orang tua’ (dalam arti dewasa), persoalan demikian bisa dibalas dengan wacana tandingan melalui bahasa keteladanan dan guyonan filosofis lainnya (parsemonan). Namun, bagi orang mudanya, justru akan menyulut adu argumentasi yang terkadang akan berakhir dengan adu fisik, kecuali mereka yang telah terdidik dengan cukup baik secara budaya dan ilmu pengetahuan.

Saya tidak terganggu dengan apapun yang menjadikan budaya Madura sebagai bahan tertawaan. Karena hal itu dapat menjadi kajian yang serius di dalam arena pengetahuan. Baik dalam bentuk filsafat, Sosiologi, Antropologi, Psikologi, Analisis Wacana, hingga Kajian Budaya dan Media (KBM) yang sedang saya geluti di doktoral UGM.

Belakangan ini, saya terganggu karena ada kebiasaan orang Madura yang dengan mudahnya menuduh dan ‘memvonis’ mereka yang berbeda dan lemah dari sisi kepemilikan modal budaya dan politik. Ada dua kasus yang nyaris memiliki pola yang sama atas tuduhan ‘sesat’ yang ‘divonis’ oleh kelompok dominan di Madura dengan mengatasnamakan lembaga legal-formal keagamaan.

Bahkan, menarik-narik nama tuhan agar menjadi lebih akurat dan terpercaya bagi masyarakat awam di sana yang notabene sangat ‘tunduk’ pada pemuka dan tokoh agama Madura. Data terkait dengan kasus ini saya dapatkan dari hasil teknik penggalian data standar metodologis, meskipun tujuannya bukan hendak membangun generalisasi perspektif secara keilmuan yang ketat atau mencoba mengeruk di air keruh. Melainkan bagian dari ‘tim pencari fakta’ independen atas kasus aliran ‘sesat’ yang tengah bergejolak di Pamekasan kemarin harinya.

‘Sesatnya’ Tarètan

Pertama, kasus Sunni-Syiah yang pernah terjadi di Sampang-Madura beberapa tahun silam. Terkait dengan ini, saya banyak belajar dari sahabat dekat di LIPI-Jakarta yang beberapa bulan lalu pernah melakukan penelitian serius mengenai hal ini.

Kebetulan, Prodi Sosiologi Unesa dan tempat tinggal sederhana saya di Madura menjadi ‘pusat’ untuk memperkaya penggalian datanya. Sekalipun begitu, pada kesempatan ini saya mencoba mengungkapkannya dari sisi budaya Madura yang saya himpun dari beberapa jurnalis pada media elektronik ternama di Indonesia yang kebetulan meliput langsung kasus aliran ‘sesat’ tersebut pada saat kejadian.

Menurutnya, kasus itu bermula dari persoalan sesama saudaranya (dari ‘orang dalam’, istilah madura ‘réng dâlem dhibi’): Tajul dan Rois. Kedua nama ini adalah nama ‘samaran’, atau di dalam kelompok aliran itu dianggap sebagai nama ‘kesakralan’.

Awalnya kakak-beradik ini (termasuk kakak tertuanya, Iklil) mondok bersama di pondok pesantren kakeknya di Pamekasan yang beraliran Sunni. Tepatnya di daerah Proppo, di sebelah barat Pamekasan dari pusat kota yang jika ditarik garis lurus ke arah baratnya akan bertemu dengan perbatasan Sampang sebelah timurnya. Tetapi, sang adiknya yang bungsu dikenal ‘nakal’ yang kemudian ‘diusir’ (diminta mondok ke Pasuruan) oleh kakeknya.

Setelah waktu berjalan, Tajul memperdalam ilmu keagamaan di Timur Tengah. Sekembalinya dari sana, mereka bersaudara itu lantas berkumpul kembali dan mendirikan pondok pesantren di Karanggayam. Jadi, selama sekian tahun, persoalan aliran Sunni-Syiah tidak menyulut pertentangan apapun di sana.

Santrinya pun cukup banyak menimba ilmu di sana. Hingga kemudian datanglah seorang perempuan cantik (yang katanya bernama Fatimah, meskipun nama ini juga patut dicurigai keasliannya) menjadi santri di sana. Singkat cerita, adik Tajul menaruh simpati padanya dan hendak memperistrinya.

Namun, mengetahui masa lalu saudaranya (taretannah dhibi’) yang ‘nakal’ dan kabarnya tidak bertanggung jawab pada perempuan yang pernah dipersuntingnya, maka sang kakak merasa sangat bertanggung jawab atas nama baik keluarga dan pondoknya. Dia mendatangi pihak orang tua sang perempuan agar menolak pinangan sang adik pada anaknya.

Setelah sekian lama tertutup rapi, apa yang menjadi alasan penolakan pinangan itu diketahui oleh adiknya. Entah darimana asal informasi itu, juga belum begitu jelas. Beberapa sumber mengatakan bahwa ada orang ke tiga yang berasal dari ‘orang dalam’ keluarga pihak perempuan itu membeberkannya pada Rois.

Sang adik merasa sangat terpukul dan memendam amarah pada kakaknya. Lalu, dia memutuskan untuk keluar dari pengurus pondok dan belajar kembali di tempat kakeknya di Pamekasan.

Setelah sekian lama belajar di tempat kakeknya, Rois pun berencana mendirikan pesantren beraliran Sunni di desa sebelah pondok pesantren kakaknya. Jaraknya tidak jauh, hanya beberapa menit ditempuh dengan kendaraan bermotor dari pondok pesantren Tajul ke pondok pesantrennya adiknya.

Namun, santrinya tidak sebanyak santri di pondok kakaknya. Bibit masalah muncul setelah adiknya mulai menyebarkan wacana ‘sesat’ ajaran di pondok pesantren kakaknya. Kabar tersebut menyebar luas ke masyarakat awam sekitar hingga datang juga ke para santri di pesantren kakeknya.

Usut punya usut, ini adalah bagian dari menyelesaikan dendamnya di masa silam. Seorang informan yang saya temui tadi malam membenarkan informasi ini karena atas hasil penelurusan liputannya di saat kejadian pembakaran rumah-rumah kelompok aliran syiah di Sampang.

Bahkan, informan lain dengan berbisik kecil mengatakan bahwa isu aliran ‘sesat’ itu jauh sebelumnya telah dihembuskan ke sejumlah tokoh agama sekitar yang notabene punya akses cepat ke otoritas lembaga keagamaan di sana. Jika hal ini benar, maka tidak mustahil bila kemudian saat kejadian itu MUI Sampang langsung dengan tegas mengeluarkan fatwa aliran ‘sesat’ terhadap ajaran dan kelompok Syiah.

‘Sesatnya’ Orang Dalam

Kedua, kasus aliran ‘sesat’ yang sempat menghangat di Pamekasan kemarin (21/08/2015). Kebetulan saya juga hadir di acara musyawarah tingkat kabupaten yang diadakan di kantor lembaga agama di sana.

Untuk gambaran umumnya, saya telah menuliskannya secara kritis-reflektif di opini koran ini setelah keluar dari ruang sidang permusyawarahan dengan rasa penasaran: “bagaimana mungkin kasus pengobatan hipnoterapi itu dengan mudahnya dibawa-bawa ke tangan wewenang kelembagaan jika data fenomenologis tidak dibiarkan berbicara lebih dalam terlebih dahulu untuk mendapatkan duduk persoalan ?”

“Bagaimana mungkin orang yang diundang dan diminta kerelaan hati untuk mengobati pasiennya (tanpa meminta bayaran apapun kecuali keridhaan sang ilahi) justru kemudian dikorbankan atas nama praktik ‘kesesatan’ ?”

Saya pun merelakan diri menggunakan teknik fenomenologis untuk berkomunikasi langsung pada sejumlah orang yang berefek langsung dan tidak langsung pada perkara aliran ‘sesat’ itu. Ada dua ketegori informan yang saya pilih berdasarkan penentuan informan kunci (key informant) dan melalui teknik menggelinding (snowball) hingga menuju ke titik kejenuhan (redudance). Pertama, pihak pasien. Kedua, keluarga dekat dan kolega dekat sang pengobat yang secara tidak langsung juga tertuduh ‘sesat’.

Dari data fenomenologis menunjukkan bahwa kolega dekat, pasien, dan keluarga pengobat itu kecewa berat dengan wacana ‘sesat’ yang dituduhkan. Dari sisi kolega dan pasiennya, ternyata tidak semuanya berasal dari kelas sosial bawah dan terbelakang dari sisi pendidikan (baik dari aspek agama dan ilmu pengetahuan).

Bahkan, ada juga dari mereka yang berstatus guru di pondok, dosen di kampus ternama di Madura, dan beberapa pejabat di luar Madura. Dia sendiri juga pernah belajar ilmu fiqih dan tauhid kepada almarhum kakek saya.

Tak hanya itu, sang pangobat itu sendiri berasal dari keluarga kyai di lingkungannya yang memperdalam sufi dan tasawuf. Uniknya lagi, sebagian besar dari pasiennya merupakan mantan para jagoan yang sedang belajar memperbaiki ahlak dan nilai-nilai ketuhanannya. Salah satu mantan jagoan yang pernah belajar padanya mempertanyakan dengan agak keheranan:

“Saya buta tentang agama, tetapi bertemu dengannya saya diajari dari awal tentang makna syahadat, sholawat, rukun Islam hinggan rukun iman. Memang gaya komunikasinya meledak-ledak, tetapi dia tidak pernah memaksa saya karena apa yang disampaikan penuh renungan (istilah anak sekolahan itu pilosopis).
Saya pernah sakit keras hingga ke rumah sakit tetapi tidak sembuh juga. Kemudian mantri di desa meminta Saya guna bertemu dengannya supaya menambah keyakinan dan memotivasi diri dengan amalan. Siapa tahu bisa mengurangi bahkan menyembuhkan penyakitnya.

Saya bertanya-tanya, apakah orang yang mencoba mengajarkan meyakini keberadaan tuhan dan tata cara mensugesti dengan dzikir dan bacaan Al-Quran agar mendapatkan ketenangan batin tiba-tiba dituduh ‘sesat’ ? Apanya yang ‘sesat’ itu ?” (Hasil Wawancara 21/08, jam 21.00 WIB)

Ternyata, tuduhan ‘sesat’ itu datang dari orang dalam (rèng dâlem) dari salah satu pasiennya di desa (yang tidak akan saya sebutkan demi nama baik keluarga dan desanya, termasuk nama sang pasien).

Awalnya, bermula dari penolakan anggota keluarga (yang tergolong dari trah Kyai) ketika anak perempuannya hendak menikah dengan lelaki dari desa sebelah yang berasal dari rakyat biasa. Tetapi, akhirnya pernikahan itu terjadi juga dengan bantuan saran dan petuah bijak dari ‘tokoh’ (ini adalah istilah orang Madura menyebut sosok Kyainya) terhadap keluarganya. Tetapi, masih ada dari pihak keluarga dekatnya (menurut informasi akurat di lapangan itu adalah paman sang perempuan) yang tidak bisa menerimanya.

Kemudian, ponakan yang telah bersuami itu mendadak sakit keras. Entah karena apa, tetapi dalam analisis medis justru tidak ditemui tanda-tanda keabnormalan dari balik tubuhnya. Dari situ, dia meminta bantuan ahli pengobatan alternatif yang ‘Islami’ (tidak mendekati syirik dalam syariat Islam).

Karena kebetulan salah satu sanak familik dari pihak sepupu ibunya menikah dengan seorang ahli pengobatan alternatif melalui energi tenaga dalam, hipnoterapi beramalan keisalaman, maka diundanglah sang ‘tabib’ tadi. Dari proses pengobatan itu disaksikan langsung oleh suami dan pihak pamannya (yang masih menyimpan kekecewaan, bahkan ‘dendam’ keluarga kepada keduanya pasca pernikahannya).

Pengobatan yang dilangsungkan bertahap, hingga kemudian melihat perkembangannya tak kunjung reda, maka dilakukanlah hipnoterapi dengan menyebut nama tuhan. Mirip acara tontonan hipnotis di televisi, tetapi sugesti yang dimasukkan adalah dengan bahasa tauhid.

Karena tujuannya untuk mengobati pasien yang sedang ‘kritis’, maka bahasa sugesti yang diberikan tidak ingin diberi penjelasan dan uraian lebih jauh. Kasarnya, mana mungkin orang sakit itu didakwahi. Berpikir aja tak jernih, apalagi kejiwaannya. Kira-kira begitu asumsinya.

Mendengar bahasa sugesti yang membawa nama tuhan itulah sontak membuat sang paman tadi pergi menyaksikan prosesi pengobatan karena dianggap ada yang menyimpang. Dari sanalah dia kemudian menyulutkan isu aliran ‘sesat’ kepada tokoh setempat, hingga dikabarkan juga pada salah satu pengurus lembaga keagamaan formal di tingkat kecamatan. Masyarakat pun mendengar, bahkan begitu mudahnya terhasut.

Hingga akhir cerita terjadilah mekanisme formal lembaga keagamaan di kabupaten itu atas pengajuan dan masukan laporan dari pihak kecamatan. Dan berakhir dengan kesepakatan yang bagi saya itu adalah keputusan berat sebelah yang salah satunya melarang praktik pengobatan ataupun kegiatan rutin pengajian yang sering dilakukan bersama para pasiennya yang telah sembuh dari sisi stabilitas kejiwaannya.

Padahal, paman tadi yang menyebarkan isu aliran ‘sesat’ itu pernah menimba ilmu dari pengajian yang diadakan oleh sang ‘tabib’. Mungkin hingga empat atau lima kali dia pernah mengikuti pengajian rutin tersebut di rumah sang hipnoterapis ‘Islami’ tadi. Anehnya, di saat proses ‘persidangan’ mencari jalan keluar duduk perkara aliran ‘sesat’ itu, dia sendiri tidak hadir di dalam ruangan. Bahkan, seorang jurnalis yang berada di luar permusyawarahan itu mendengar celetukan irosnisnya: “kalau hanya mengobati dengan cara begituan, saya juga bisa”, begitu ketusnya.

Jika penuturan itu benar, saya bertanya-tanya mengapa dia tidak membantu saja keluarga dan orang lain di desanya yang sedang mengalami sakit jiwa, atau mereka yang kerasukan berbagai energi negatif yang tidak terlihat secara mata terbuka ?

Jikapun benar dia juga memiliki kemampuan mengobati dengan tenaga dalam dan ilmu kebatinan (kajunilan), berarti tengah terjadi kompetisi antar ahli pengobatan alternatif untuk perebutan lahan kepopuleran bukan ? Karena ada kaitannya dengan ‘dendam’ keluarga di kehidupan sebelumnya, maka isu yang sangat mudah memantik rasa marah masyarakat desa dan tokoh agama di sana tidak ada jalan lain, selain menghembuskan isu praktik pengobatan beraliran ‘sesat’.

Nasi telah menjadi bubur. Tidak hanya pengobatan alternatif yang terkena imbas terusiknya nama baiknya, melainkan juga orang Madura dan orang luar Madura yang gemar mencari bantuan ‘orang pintar’ dalam urusan kesehatan, kekuasaan, kenaikan jabatan, serta mempermulus proyek-proyek penelitian dan pembangunan.

Saya pun sebagai orang Madura yang mendidik para manusia muda di luar Madura akan menjadi bahan tertawaan, bahkan akan mudah dilabeli berbudaya ‘sesat’ karena dianggap tak peduli dengan kebiasaan orang Madura yang mudah sekali ‘menyesatkan’ orang lain yang berbeda dan tidak berdaya.

Kata maaf secara kultur kekeluargaan mungkin tampak lebih tepat dilakukan kepada mereka yang telah terlanjur tertuduh ‘sesat’. Meski ini tidak bisa sepenuhnya menghapus ternodanya harga diri mereka yang dikorbankan ‘sesat’, kecuali tuhan berkehendak lain.

Maafkan saya jika tulisan ini kurang berkenan bagi orang Madura, tetapi cobalah dimengerti bahwa ini bagian dari tanggung jawab ilmu pengetahuan dan penegakan nilai kemanusiaan agar di masa depan perdamaian sosio-kultural di aras lokal bisa lebih terawat dan tumbuh lebih baik. Mungkinkah ? Tanyalah pada rumput yang bergoyang.

Catatan lapangan:

Catatan lapangan kasus pertama: sejumlah kumpulan dokumentasi dari pihak Tajul termasuk pernyataan LSM, ormas, dan lembaga keagamaan di Sampang saya dapatkan dari seorang jurnalis. Menurut tuturannya, dokumen itu dia dapatkan langsung melalui kiriman cepat dari tokoh Syiah dan kolega dekat Tajul di luar Madura.

Catatan lapangan kasus kedua: Foto dokumentasi pribadi yang diambil sendiri dari lapangan di dua lokasi berbeda (desa dan kecamatan juga berbeda) di daerah Pamekasan. Satu di desa pedalaman bersama para informan. Satunya lagi foto rumah kecil dan sederhana dari ahli pengobatan alternatif yang dituduh ‘sesat’ yang letak rumahnya berada di kota, dan diapit oleh dua rumah besar penduduk sekitarnya yang tergolong kelas mengengah atas.

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...