Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Dog offers flowers to a cat/depositphotos.com Dog offers flowers to a cat/depositphotos.com

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan

Suhu udara di pulau Madura memang terasa panas. Bahkan, orang-orang di desa pedalaman Madura sudah terbiasa mengenakan pakaian hampir setengah telanjang untuk mengusir rasa panas. Tetapi, panas di Sampang tergolong paling ekstrem dibandingkan daerah lainnya. Panas di Sampang tidak hanya dipicu sengatan panas alamnya, melainkan juga oleh kehidupan sosial masyarakatnya.

Selain kondisi tanah yang didominasi lapisan kapur, sebagian penduduk di Sampang begitu mudah tersulut amarah. Apalagi, bersinggungan dengan sentimen keagamaan. Menyulutnya konflik kekerasan antara kelompok Sunni dan Syiah beberapa tahun silam adalah salah satu bukti yang sulit disangkal.

Ratusan rumah terbakar. Puluhan orang terkapar. Sisa korban lainnya terpaksa diungsikan ke pulau seberang. Jejak dendam kesumat di antara pihak bertikai hingga kini masih terawat dengan setumpuk stigma yang tak pernah usai. Puing-puing bangunan yang telah rata menjadi abu di lokasi kejadian seakan menjadi saksi bisu betapa sulitnya membangun nilai-nilai toleransi di antara sesama.

Tragedi berdarah di Sampang sudah hampir melewati tahun keenam. Terhitung sejak akhir Desember 2011. Tidak seperti tragedi kemanusiaan lainnya di Indonesia, semisal, gerakan reformasi 1998 atau 30 September 1965, tragedi berdarah di Sampang hampir tidak pernah diperingati sebagai warisan sejarah yang menggugah penyadaran.

Boleh jadi, karena Sampang merupakan satu di antara 122 daerah tertinggal di Indonesia, maka tidak ada yang menarik selain penderitaan. Namun, setiap peristiwa konflik kekerasan selalu ada generasi terbungkam yang luput dari perhatian. Yakni, anak-anak sekolah dasar yang hingga kini berjuang merancang masa depan di tengah kerterbatasan. Saya ingin berbagi cerita tentang proses pembelajaran anak-anak korban yang terjebak di tengah pusaran konfrontasi ‘orang tua’ (rèng wa-towah) di Sampang.

Pendidikan Korban Kerusuhan

Proses pembelajaran anak-anak korban konflik kekerasan hampir dalam segala hal tidak bisa disamakan dengan pendidikan anak-anak dalam situasi normal. Jika anak-anak lain bisa bersekolah dan belajar di kelas dengan tenang, maka anak-anak di daerah pertikaian seperti di Sampang selalu berada dalam kecemasan, ketakutan, dan ketiadaan harapan.

Agama yang sering kita anggap dapat menjadi lokomotif perdamaian dan kesejukan jiwa seakan berputar arah bagi kehidupan anak-anak di sana. Tentu, kita percaya bahwa selalu ada cinta dalam setiap agama. Tetapi, peristiwa berdarah yang meletus karena sikap tidak mau mengalah di antara para ‘orang tua’ di Sampang telah terlanjur mengisi fase awal pendidikan yang sulit dilupakan anak-anak mereka.

Beberapa orang di antara mereka enggan bersekolah lagi pasca peristiwa kelam itu. Mereka cenderung memilih tinggal bersama sanak keluarganya yang berada di luar desanya. Sebagian lagi, merantau ke luar pulaunya untuk belajar hidup mandiri. Tetapi, anak-anak perempuan dihadapkan pada pilihan sulit. Membantu urusan dapur keluarga atau terpaksa dinikahkan pada usia sangat dini.

“... anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu. Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal ...”.

Penggalan lirik lagu Iwan Fals ini relevan menggambarkan dekadensi moral yang harus ditanggung renteng oleh anak-anak lugu dan tidak berdosa itu.

Beruntung anak-anak yang meninggalkan bangku sekolah itu hanya sebagian kecil. Teman-teman sebaya mereka masih ada yang menjalani rutinitas pendidikan formal, meskipun jumlahnya tidak sebanyak dulu. Beberapa sekolah di sekitar Karanggayam (daerah utama kerusuhan), banyak terdapat bangku kosong. Jarak antar siswa yang duduk di sana tampak renggang. Satu kelas rata-rata hanya berisi 10-15 siswa saja.

Sebagian besar dari mereka banyak yang pindah sekolah, terutama ke sekolah berbasis pesantren. Menurut orang tua mereka bahwa sekolah di pesantren mendapatkan dua keuntungan. Selain ilmu pengetahuan umum, mereka juga dibekali ilmu agama sekaligus. Hal ini membuat para guru di sekolah dasar setempat merasa kebingungan. Di satu sisi, mereka dituntut memenuhi standar jumlah siswa sesuai standar kebijakan nasional. Di sisi lain, tekanan sosial budaya setempat membuat para guru tidak bisa berbuat banyak.

Tidak ada cara lain selain mendidik siswa sekolah dasar walau dalam jumlah yang terbatas. Tetapi, upaya menguatkan proses pembelajaran di wilayah konflik, terlebih lagi di daerah tertinggal, tidaklah mudah. Mereka ingin sekali mengajak anak-anak didiknya membaca buku-buku yang punya spirit dan inspiratif seperti laskar pelangi.

Tetapi, anak-anak desa di Madura telah sejak lama terbiasa dengan budaya lisan sebagai warisan budaya masyarakatnya. Hal ini dapat disiasati dengan metode mendongeng atau bercerita. Tetapi, para guru terjebak oleh tuntutan penyelesaian bahan ajar sesuai acuan kurikulum pusat. Belum lagi konflik internal yang terjadi di kalangan kelompok guru tetap dan tidak tetap dalam pembagian beban mengajar. Tidak cukup di situ.

Waktu sekolah juga harus dibagi dengan waktu madrasah sebagai bentuk kesepatakan sosial tidak tertulis di masyarakat. Jika ini tidak dilakukan, maka tidak hanya pendidikan anak yang terancam, tetapi juga keselamatan gurunya.

Masih ada metode pembelajaran alternatif yang boleh saja dipertimbangkan walau derajat keberhasilannya sangat diragukan. Yakni, menggunakan media pembelajaran berbasis IT (informasi teknologi) seperti menonton film laskar pelangi, 3 Idiots, Dead Poets Society, dan lainnya.

Tetapi, sebagaimana daerah tertinggal pada umumnya, sarana dan prasarana pendukung sekolah di daerah itu masih memprihatinkan. Dengan adanya gedung sekolah saja sudah cukup memuaskan. Meskipun menuju ke sekolah anak-anak harus berjalan kaki lebih dari 2 Km dari tempat tinggalnya.

Ajarkan Anak Mengikis Dendam

Jalan-jalan pedesaan yang terjal, berkelok-kelok, penuh bebatuan, dan dikelilingi perbukitan, tidak memungkinkan transportasi umum berjalan normal di sana. Kondisi alam seperti ini memaksa guru yang rumahnya jauh harus mengeluarkan biaya ekstra.

Di musim penghujan, dana akomodasi itu semakin membengkak karena jalan yang harus dilaluinya seringkali tergenang banjir dan lumpur. Tak heran jika musim penghujan datang, sebagian guru terlambat datang atau bahkan tidak datang ke sekolah. Anak-anak juga senang. Mereka leluasa membantu orang tuanya membajak sawah atau sekedar menyabit rumput bayaran untuk pakan ternak tetangga.

Sekalipun kegiatan semacam itu mungkin dapat dimaklumi, ada semacam gejala kegagalan pendidikan. Karena, kesenangan anak-anak itu hanyalah efek samping dari kehilangan harapan pasca kerusuhan.

Jika sekolah tidak lagi terasa menyenangkan, maka kehidupan anak-anak sekolah dasar tengah dihantui persoalan eksternal. Sekolah memang bukan sekedar mengisi waktu luang. Datang, duduk, belajar, lalu pulang membawa setumpuk pekerjaan sekolah. Sekolah harus menjadi tamasya pendidikan yang membuat anak merasa kerasan dan berkesan selama belajar dan bermain bersama teman.

Bagaimana mungkin pembelajaran tentang nilai-nilai persaudaraan, saling menghargai, dan tolong-menolong bila anak-anak lari sekaligus menghindar dari aktivitas persekolahan ? Memang, sekolah turut memikul beban ketika ruang belajarnya berubah layaknya ‘neraka’ bagi anak didiknya.

Tetapi, kebersamaan dengan orang tua dan masyarakatnya lebih banyak menyita waktu sehari-hari mereka daripada waktu sekolah. Sehingga, anak-anak cerminan dari lingkungan sosialnya. Mereka mudah meniru tanpa berpikir panjang tentang perbuatan orang tua atau orang yang dianggap lebih tua dari dirinya. Bisa dibayangkan bagaimana masa depan di daerah tertinggal dan rawan konflik jika anak-anak sekolah gemar mengolok-olok teman sebayanya dengan sebutan ‘anak kafir’.

Apa gunanya angka-angka gemilang yang tertera di raport jika anak-anak sekolah membuat batasan yang tegas tentang sosok teman yang terkutuk dan tidak ? Apa manfaatnya anak-anak naik kelas dan lulus sekolah apabila masyarakatnya terus saja mendidik mereka saling membenci karena berbeda kepercayaan dan keyakinan agamanya ?

Darurat sosial ini tidak bisa dipecahkan hanya dari satu atau dua penuntasan materi bahan ajar yang dipatok oleh kurikulum pendidikan. Para orang tua di daerah kerusuhan harus belajar saling memaafkan demi mengikis dendam sejarah. Sehingga, para orang tua bisa menjadi teladan dan pegangan moral bagi anak-anak mereka di masa mendatang.

Jika jalur sosial tampak sulit dilakukan, maka jalur pendidikan formal bisa ditempuh dengan memasukkan materi serupa dalam kurikulum pendidikannya. Kedua jalur perdamaian sesama anak bangsa dan umat manusia di Sampang ini memang tak bisa menuai hasil instan. Minimal, komitmen membangun ulang puing-puing peradaban dan ikatan persaudaraan terus terpupuk dan terpelihara. Niat utamanya adalah memulihkan harapan. Agar, senantiasa terbentuk karakter insan paripurna di kalangan anak-anak Madura. Selebihnya, tanyalah pada hatimu, kawan.

 

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...