Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Analisis kebijakan publik bagi peningkatan mutu penelitian

Analisis kebijakan publik bagi peningkatan mutu penelitian

Sub Judul


Oleh: Riant Nugroho


Krisis Penelitian: Suatu Pengantar

Ada pertanyaan penting dan mendesak untuk disimak. Bagaimanakah strategi meningkatkan kualitas penelitian dan sumber daya para peneliti di Indonesia ?. Inilah tantangan terbesar pendidikan tinggi di Indonesia.

Pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan institusional dalam rangka menggerakkan hasrat penelitian di berbagai bidang ilmu pengetahuan (eksakta dan sosial-humaniora), tanpa diskriminatif. Apalagi, hanya difokuskan pada pemberian insentif kepada mereka yang dekat dengan lingkaran penentu kebijakan dan pemegang kendali kekuasaan.
   
Berdasarkan data World Economic Forum (WEF) tahun 2013 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 36 dari 139 negara yang selalu giat menghasilkan inovasi (www.lipi.go.id). Dalam website Journal Rangkings (SJR) sepanjang tahun 2011, Indonesia menempati peringkat ke-64 dan hanya 5 jurnal yang masuk peringkat dunia. Sedangkan, Malaysia berada di peringkat ke-43 dan 43 jurnal yang telah masuk peringkat dunia. Tidak hanya itu, dibandingkan dengan berbagai kampus di negara tetangga, misalnya, hasil penelitian di kampus Indonesia bisa dibilang sangat jauh tertinggal.

Setidaknya, ada lima lembaga teratas yang bisa dijadikan referensi data publikasi berdasarkan hasil telusuran dari www.Scopus.com. Pada tahun 2013, jumlah publikasi di ITB sebanyak 2607, UI sebanyak 2276, 1358 publikasi dari UGM, 910 publikasi dari IPB, dan 826 publikasi dari LIPI. Sementara itu, total publikasi di Universiti Malaya sebanyak 18838, di Universiti Sains Malaysia sebanyak 15003, 14073 publikasi dari Universiti Putra Malaysia, 12705 publikasi dari Universiti Kebangsaan Malaysia, dan 8146 publikasi dari Universiti Teknologi Malaysia. Di Singapura, lima lembaga teratas dalam aspek publikasinya adalah National University of Singapure (sebanyak 69505 publikasi), Nanyang Technological University (41596 publikasi), Singapore General Hospital (6178 publikasi), Institute for Infocomm Research (5754 publikasi) dan National University Hospital (5261 publikasi).       

Keprihatinan terhadap penelitian dan daya gerak para peneliti di Indonesia, terutama mereka yang mengabdi pada ilmu pengetahuan di berbagai kampus, telah melakukan berbagai upaya. Supaya spirit meneliti dan mempublikasikannya semakin mengakar kuat. Data naratif menunjukkan bahwa berdasarkan wacana yang berkembang di kalangan beberapa teman-teman dosen di beberapa kampus telah ada niat baik dari penentu kebijakan universitas. Seperti, memberi intensif yang besar (hingga puluhan juta rupiah) bagi para dosennya agar meneliti dan mempublikasikan karya-karyanya, baik itu berupa jurnal maupun dalam bentuk buku serius. Bahkan, hibah penelitian dan publikasi yang bersifat ilmiah juga diberikan langsung pada tingkat prodi di kampus bersangkutan. Masalahnya, tidak semua kampus melakukannya. Itu belum termasuk urusan birokrasi dan administratif yang terkadang bisa menjadi kendala tersendiri bagi jalannya praktik penelitian para insan akademisi.

Pada konteks inilah, tim Litbang Kopi (koran opini.com) mendapatkan donasi analisis yang menarik tentang strategi meningkatkan gairah penelitian yang belakangan menyita perhatian presiden terpilih, Jokowi. Sumbangan tulisan saudara Dr. Riant Nugroho ini berupaya memberikan ulasan melalui perspektif kebijakan publik untuk menjadikan kualitas penelitian di Indonesia semakin lebih hebat. Selamat menikmati !

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...