Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next
admin

admin

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. Website URL:

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas Pameran Drawing dan Sketsa Goenawan Mohamad

Keberadaan, ke-penting-an, nilai sketsa memang tak seperti dulu. Perkembangan seni rupa (kita) yang makin matic berakibat ditinggalkannya bahasa, media ini. Meskipun ada beberapa gerakan untuk "kembali ke asal" lewat sketsa, tapi lebih pada aksi, nostalgia, daripada mencari, mengupas nilai garis, sapuan, blok, ruang, dan lain-lain.

Beda dengan era Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan, dkk hingga era ASRI yang dekat dengan media ini, baik sebagai proses menempa diri, keterbatasan media hingga menjadi karya yang selesai. Dalam era itu, kita bisa melihat dan merasakan kepercayaan pengungkapan ekspresi perupa pada torehan-torehan tinta, baik yang lembut, samar, sampai yang berat, tandas.

Sketsa, sebagai media yang paling dekat, sederhana, murah, sebenarnya lebih mampu menangkap lintasan-lintasan, getaran-getaran, hingga gerak-gerak paling jauh, liar, atau mustahil, sebab ia bersifat lebih personal, saat itu, apapun adanya, lepas.

Sering terjadi seorang pelukis lebih berani di lembar kertasnya, lebih kuat daripada bidang kanvasnya.

Kita menemukan banyak sisi yang muncul dalam sketsa, seperti ketiba-tibaan, ketaksengajaan, kegagalan, kekurangan, dan sebagainya yang justru melahirkan keindahan-keindahan atas ketaksempurnaan.

Dalam sketsa-sketsa Goenawan Mohamad (GM) ini, kita menemukan gerak dan lintasan-lintasan sesaat yang datang itu. Tidak usah mempersoalkan ia sebagai penulis atau pelukis. Siapapun berhak mengutarakan pendapatnya lewat bahasa yang paling tepat. Pelukis tak selalu cukup dengan bahasa rupa dan penulis pun tak tuntas juga dengan huruf-hurufnya.

Sebagai penulis senior, kawakan, ia pasti telah mengenal dunia seni, senirupa, dan senimannya. Mungkin juga ia sempat bertanya dan mengolah sambil jalan apa arti sebatang garis pada entah siapa hingga membentuk garis-garisnya sekarang.

Ia bukan pemburu obyek kuli pasar, kuburan, pantai, jalan raya, atau kebun binatang yang sedikit demi sedikit menyimpan kesan lalu membangunnya menjadi bahasa atau karakter sendiri seperti teman-teman pelukisnya. Garisnya tidak meledak-ledak, emosional, membakar, tapi halus, luwes, dan beberapa mengingatkan kita pada garis Oesman Effendi atau Mochtar Apin.

Ada yang hampir penuh dengan sapuan hitam, beberapa garis tebal-tipis, sering juga hanya satu obyek kecil yang mencelos seperti di kejauhan sana.

Semua obyeknya hampir ditaruhnya di tengah, lalu ia membangun cerita, suasana, atau pemadatan waktu lewat teks-teks, goresan-goresan, sapuan-sapuan, juga obyek-obyek yang lebih kecil, jauh, hingga terbangun keseimbangan, keutuhan, keselesaian yang tak kunjung. Seperti kenakalan dan kehati-hatian yang sambung-menyambung, bergelut.

Apapun yang hendak menariknya, bahkan ketertarikannya, diredamnya, tak sampai meledak, lalu kembali ke tengah.

Obyek yang muncul atau diletakkan di tengah menciptakan komposisi yang stabil, juga menimbulkan rasa tenang, mantap, aman, agung, tapi bisa juga menjadi mati, terlalu jelas, mandeg.

GM memahami komposisi ini. Ia bukan ombak yang menggelora di tepi, tapi naik turun di tengah. Teks-teks yang sering berupa puisi-puisi pendek mengajak kita pergi, bukan memaku di gambarnya. Benda/obyeknya menjadi tanda pada apa yang terjadi di kepalanya, pikirannya.

Ia bekerja berdasar pada ingatan, lintasan, atau pikiran yang muncul, bukan pada panca indera yang tercekam obyek di depannya hingga garisnya tak ada yang tiba-tiba begitu, urgen, "keluar," seperti pada sketsa-sketsa on the spot umumnya.

Ia cenderung hati-hati, dingin. Mungkin ia tidak menyentuh, meraba, tapi meneropong dari menaranya dari berbagai sudutnya. Ia hidup di kamarnya, menaranya, walaupun dalam beberapa teks pendeknya ia seperti ingin keluar, berjalan ke semak-semak ilalang, bertualang hingga ke negeri-negeri penuh kabut.

Komposisi tengah GM, seperti ia tengah mengambil jarak dari keriuhan, khaos, agar ia bisa (berusaha) melihat dengan tetap dingin dan rasional. Tengahnya merupakan kamar pribadinya yang memungkinkannya memuntahkan apa saja, tanpa ingin di"dengar," di"ganggu," di"intip," dari luar. Tapi pola kerja demikian lebih memungkinkan untuk bermain, mencoba, mengukur, menggali, atau bereksperimen dengan semua elemen.

GM mempertahankan bentuk "obyek" (fantasi). Ada sedikit deformasi sebagai daya ungkap. Kemunculan bentuk-bentuk deformatif, vignetis itu sepertinya didapatnya dari bentuk-bentuk patung primitif, wayang, atau motif-motif lain yang ditemukannya di mana-mana, seperti ia menjumput cerita-cerita, legenda-legenda, dan mitos-mitos dari berbagai sudut, suku bangsa di manapun, lalu menariknya menjadi "miliknya," mewakili, mengilustrasikan itu sebagai peristiwa serupa yang berlangsung di sekitarnya.

Obyek yang kerap muncul adalah perempuan, baik secara harafiah atau ia meng-atmosfer-kannya. entah sebagai simbol ibu, bumi, hidup, atau kekasihnya. Bisa juga perempuan menjadi simbol keindahannya, idealnya, cinta sekaligus tragedinya, dunia purba yang matriarkal, persetubuhan yang gelap, atau sosok ibu di masa lalu.

Lewat sketsa, GM membeberkan tentang apa saja yang melintas dalam pikirannya. Ia menjalar ke mana-mana melalui wayang, dongeng, mitologi, perempuan, bumi. Ia seperti juga sedang mewakili zamannya yang telah melewati sekat-sekat, batas - kakunya gerak dengan bermacam bahasa. Tahu dan sadar sebagai putera modernitas, dengan segala perkembangan dan akibatnya, ia melihat, mengalami, menumpahkannya tidak hanya dengan bahasa kata, tapi mencari berbagai bahasa yang paling mengena, termasuk juga dengan bahasa sketsa.

 

 

Subscribe to this RSS feed

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next